Feeds:
Posts
Comments

Duka Ranah Minang

 

Saudaraku,
Jika tanah yang merekah serta api yang membuncah adalah kalam
Dimanakah rasa hendak dipanjikan
Sementara jerit tangis dan isak sendu buah hati telah terbungkam
Memejam pasrah dengan wajah ikhlas meski tanpa ruh lagi terdiam
Akankah pintu surga yang terbuka dianggap kelam ?

Saudaraku,
Sepinggan penat berbumbu keringat telah coba kami kirimkan
Tentulah belum sebanding dengan luka yang mencekat
Belum lagi puing debu serta liang lahat
Kemanakah dawai duka hati ini akan tertambat ?
ranah dan rantau sungguhlah tidak dekat

Saudaraku,
Meski do’a yang teriring tidaklah terlihat
Dan biru lebam belum lagi bertobat
Semoga ALLAH memudahkan sanak kerabat
Hendaklah duka ranah minang saja yang terangkat mangkat
tali kita sungguhlah kuat

Daan Mogot Duka Oktober 2009

Gempa di Jakarta

Telah terjadi gempa di Jakarta pada hari Rabu 2 September 2009 pukul 14:58 WIB selama kurang lebih 1 menit. Guncangan dari lantai 8 daerah grogol tempat saya duduk terasa sekali menunjukan besarnya kekuatan gempa di Jakarta kali ini

Negara Bukan Bukan

Sebagai anak bangsa sudah selayaknyalah kita bangga dengan negara ini, dan memang kebanggaan sebagai warga negara Indonesia tidaklah pernah luntur dalam dada dan sanubari.  Namun toh tidak juga harus menutup mata dengan apa yang telah terjadi sepanjang sejarah perjalanan bangsa ini baik sebelum menjadi negara maupun setelahnya. Salah satunya adalah kenyataan bahwa negara ini adalah negara yang bukan – bukan.

Sudah sangat umum kita ketahui bahwa negara kita tidak menganut sistem demokrasi parlementer meski pada prakteknya kekuatan legislatif jauh lebih besar daripada presidennya selaku eksekutif.  Begitu juga jika pertanyaan apakah negara ini adalah negara sekuler atau negara berdasarkan agama tertentu bisa dipastikan bahwa para petinggi kita akan menjawab bahwa negara kita bukan negara sekuler dan juga bukan negara agama tetapi negara pancasila meski jika diminta mendeskripsikanya selalu mengambang dan jauh panggang dari api.

Salah satu yang bukan – bukan adalah hubungan diplomatik Indonesia dengan Israel, meski secara resmi baik anggota dewan maupun petinggi pemerintahan mengatakan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, kenyataan yang terjadi tidaklah demikian. Pasca tergusurnya Eyang Kakung mulai terkuak hubungan mesra tapi rahasia Indonesia dengan Israel, oleh pelakunya yang notabone perwira tinggi militer kisah hubungan mesra tapi rahasia ini telah di bukukan dan disebarluaskan (* kasus pengiriman pilot Indonesia ke Israel *).

Kisah terbaru  adalah disitanya senjata pindad di Filipina, dimana ditemukan ratusan pucuk senjata produksi pindad yang khabarnya menggunakan merk galil-israel. Pindad sejatinya hanya memiliki lisensi pembuatan senjata dari FN Belgia yang dinamai Senapan Serbu (SS)  diantaraya SS1 & SS2 dan telah diaplikasikan oleh beberapa jajaran TNI dan Polri, lalu bagaimana mungkin senjata yang disita oleh pihak berwenang Filipina yang jelas- jelas terpatri di bagian senjatanya sebagai produksi Pindad – Bandung – Indonesia tetapi bermerk Galil-Israel ?

Lucunya lagi Pindad telah mengakui bahwa senjata – senjata tersebut adalah buatan mereka dan diekspor atas permintaan pemerintah Filipina dan Mali melalui salah satu agen rekanan resmi pemerintah Filipina, lalu kenapa kemudian malah disita dan di tahan ? kenapa pula tidak dijelaskan secara resmi apakah senjata – senjata tersebut menggunakan nama SS atau Galil ? jika ada sangkut pautnya dengan Israel, apakah Pindad resmi sebagai pemegang lisensi Galil atau malah Israel hendak menggunakan SS produksi Pindad dengan nama Galil dan bukan untuk Filipina dan Mali ?

Disinilah kemudian label negara bukan bukan kian melekat, Pindad sebagai BUMN tentu juga merepresentasikan Negara sebab kepemilikanya dibawah naungan pemerintah, bahkan Panglima TNI yang terpilih otomatis menjadi salah satu komisarisnya. Jika secara resmi Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel lalu bagaimana mungkin Pindad bisa memegang lisensi Galil ? atau katakanlah Pindad mengekspor senjata untuk Israel, bagaimana hal tersebut bisa terjadi tanpa hubungan diplomatik  ? bukankah jual beli senjata termasuk kebijakan strategis yang seharusnya diputuskan oleh pemerintah bukan hanya dari pihak pindad semata ?

Sebagai warga negara Indonesia dan juga sebagai muslim yang hidup di negara berpenduduk muslim terbesar di dunia  tentu akan sangat miris jika suatu saat mendengar senjata buatan negaranya digunakan untuk membunuh para mujahid di palestina sana, jika hal tersebut benar – benar terjadi sungguh suatu ironi yang menyedihkan dan akan kian menyuburkan radikalisme sebagai bentuk ekses dari kekecewaan ummat muslim Indonesia terhadap pemerintahnya yang kian lama kian menggunung, semoga saja hal tersebut hanya sekedar asumsi dangkal dan tidak akan pernah terjadi…

Ganyang Malaysia

Minang Maimbau

Minang Maimbau

Kata orang seringkali sejarah berulang mungkin ada benarnya, coba tengok hubungan indonesia – malaysia, pasang surut hubungan negara serumpun ini bahkan juga pernah di bumbui dengan aksi pertikaian senjata. Nun dahulu kala ketika presiden pertama kita berkuasa, dengungan “Ganyang Malaysia” seakan menjadi mantra penyemangat muda – mudi kita untuk berangkat dan menyusup ke dalam batas negara malaysia dengan heroik dan patriotik.

Adalah pertikaian para koboy dengan seterunya beruang merah beserta bambu kuning yang dulu menjadi asal muasal gerakan “Ganyang Malaysia” membahana, bahkan kelahiran negara Singapura pun salah satunya tidak lepas dari campur tangan pemerintah kita kala itu yang mensupport berdirinya negara baru singapura ditanah Melayu,  meski barangkali keterlibatan tersebut tidak diakui secara resmi.

Jika sekarang dengungan “Ganyang Malaysia” kembali membahana apakah karena urusan “sepele” komunis dan kapitalis saja ? rasanya kita sebagai anak bangsa harus mengakui bahwa kali ini saudara serumpun kita itu yang keliru. Setelah mengakuisisi Sipadan dan Ligitan (* meski harus diakui juga karena keteledoran pemerintah kita yang kurang peduli *), kemudian dengan arogan mempatenkan batik, koq sekarang bisa – bisanya membuat iklan kunjungan wisata ke Malaysia dengan menampilkan budaya milik indonesia.

Belum lagi istilah “Indon” yang sangat melecehkan serta kasus – kasus penyiksaan TKW oleh warga Malaysia (* yang entah kebetulan atau tidak dilakukan oleh etnis tertentu non melayu *).  Bahkan yang paling potensial kembali menjadi konflik bersenjata adalah kasus Ambalat yang sudah melibatkan tentara kedua negara.

Lalu apakah kita begitu saja mengamini semboyan “Ganyang Malaysia” ?, tunggu dulu, barangkali kita perlu menelaah bahwa selain banyaknya konflik yang telah terjadi, yang membedakan kita dengan warga malaysia pada umumnya hanyalah “sekat negara“. Sebagai bangsa kita adalah serumpun meski berbeda negara, sebagai ummat muslim apalagi, kita jelas – jelas bersaudara.

Meski bukan berarti kita menerima begitu saja pelecehan yang mereka lakukan, tetapi bukan berarti perselisihan yang terjadi dengan mudah menjadikan mereka “musuh” kita yang perlu dicaci maki atau bahkan diperangi dengan senjata. Apalagi jika di telaah lebih mendalam ternyata selain bangsa serumpun bahkan bagi “urang minang” (* dan juga Bugis, melayu Riau, dll. *) malaysia khususnya Negeri Sembilan memiliki nilai emosianal tersendiri.

“ISLAMOPHOBIA”

Sungguh ironis negri yang kucintai ini, keramah-tamahan yang dulu sangat lekat dengan penduduknya hendak dirubah hanya atas nama “memerangi teroris“, hubungan bertetangga yang hangat dan penuh tenggang rasa dicampakan begitu saja dengan himbauan “hati – hati tetangga anda siapa tahu teroris“, masyarakatnya yang selalu berbaik sangka harus penuh selidik dan curiga terhadap siapa saja yang datang dengan dalih “kewaspadaan terhadap teroris” bahkan mengusir orang jadi hal yang biasa hanya dengan alasan si warga baru “mencurigakan” atau “kurang mau bergaul“.

Yang lebih menggelikan lagi, di negri yang kata orang berpenduduk muslim terbesar di dunia ini untuk urusan dakwah dan khotbah pun harus di tunggui polisi hanya karena khawatir khotbah disusupi teroris. Menjadi lucu karena dengan begitu besarnya jumlah ummat muslim di negri ini berapa orang polisi setiap jum’at nya yang harus dikerahkan ? menjadi menyedihkan karena baik polisi yang mengawasi maupun pemerintah yang menugasi ternyata di “KTP” mereka kolom agamanya tertulis beragama “ISLAM”.

Phobia terhadap ISLAM yang menjangkiti “Barat” ternyata sudah menjalar dan meluas begitu pesat, bukan saja menjangkiti para bule yang memang dalam hatinya penuh penyakit terhadap ISLAM, tapi dengan sukses dan liciknya negri – negri yang secara geografis berpenduduk mayoritas muslim pun “ditulari” dengan suksesnya, bahkan mereka rela membunuh saudara seimannya dengan dalih memberantas teroris tanpa peduli benar atau tidak tuduhan itu.

Negara adidaya yang sebelumnya begitu ketat meng-embargo negri ini ketika memang sangat memerlukan alutsita karena masalah separatis, justru jor – joran melatih dan mempersenjatai polisi kita hanya untuk berprilaku “koboy” terhadap saudara seimannya seperti nenek moyang mereka memperlakukan penduduk asli disana dahulu kala. Bahkan dengan angkuhnya mereka melabeli setiap muslim sebagai “teroris” atau “islam radikal” kepada ummat yang berpegang teguh pada akidahnya, sementara mereka mendidik, mendanai dan mendoktrin penganut “agama islam” yang sesuai dengan selera mereka serta melabelinya dengan istilah yang mewah sebagai “cendikiawan muslim”, “budayawan”, “pemerhati islam” atau bahkan gelar bergengsi Phd kajian islam bahkan proffesor sekalipun.

Lalu hendak menjadi seperti apakah negri ini selanjutnya? apakah ummat muslim negri ini mulai berubah menjadi buih dilautan ataukah sedari dahulu kala memang sekedar buih dilautan ? sehingga mudah dibodohi dan dipengaruhi ? Wallahualam bissawwab.

Turut berduka cita atas berpulangnya NY. Kastian istri dari figur teladan bangsa ini Hidayat Nurwahid, semoga almarhumah dimudahkan jalannya dan diberikan keselamatan dalam penantiannya…

Aku tahu seperti apa Tuhan,
Bukan seperti manusia atau jadi – jadian,
Apalagi binatang dan tumbuhan,
Ataupun isi langit dan bintang yang bertaburan,

Aku tahu seperti apa Tuhan,
Bukan dalam wujud keseharian,
Apalagi memiliki rasa dan bentuk keduniawian,
Ataupun sosok seorang guru yang welas asih lagi rupawan,

Aku tahu seperti apa Tuhan,
Bukan dengan mata tapi dalam hati dan renungan,
Sebab DIA telah membuktikan,
Dengan hidup dan mati yang DIA tentukan,

Aku tahu seperti apa Tuhan,
Bukan dengan rasa dan nafsu pembenaran,
Sebab DIA telah memfitrahkan,
Dengan kebebasan memilih jalan dan tindakan,

Aku tahu seperti apa Tuhan,
Bukan bentuk fisik yang tergantung hukum alam dan aturan,
Sebab atas kehendak-NYA-lah semua berjalan,
Dengan janji akan hari pembalasan,

Aku tahu seperti apa Tuhan,
Sebab mati bukanlah akhir perjalanan.

asiknya maen gameboy Hari ini…
empat tahun t’lah engkau lampaui,
tumbuh dan berkembang bak dewi surgawi,
kau bawa serta mentari pagi,
yang lembut bersinar menyirami hati,
serta teduh temaram menerangi hari.

Hari ini…
empat tahun t’lah engkau lewati,
tahun – tahun lain sudah siap menanti,
menunggu canda dan derai tawamu mentari,
mengejar mimpi dan cita-citamu yang tinggi,
serta kelak menjadi anak yang sholeh dan berbakti.

s’moga ALLAH meridhai…

06 Januari 2008

Pasar NoteBook di Indonesia semakin hangat semenjak semakin rendahnya harga notebook yang di lepas di pasaran hingga perbandingan harga antara desktop dengan notebook kian menipis. Sayangnya pasar notebook yang makin bergairah diiringi juga dengan kenakalan beberapa vendor dalam memasarkan produk mereka khususnya notebook yang menggunakan processor dari Intel, ada saja vendor yang melabeli produk notebook mereka dengan platform Centrino terbaru (* bahkan dengan menempelkan logo Centrino terbaru *) tetapi masih menggunakan chipset untuk centrino lama atau bahkan dengan teknologi wireless lawas yang mestinya digunakan untuk platform centrino dua generasi sebelumnya,  ada juga vendor yang melabeli produk mereka sebagai Centrino Platform padahal menggunakan processor Dual Core series bukan Core Duo series meski sepintas sama.

Diakui atau tidak pihak Intel sendiri juga ikut berperan dalam menambah kebingungan konsumen dengan penggunaan logo Centrino yang hampir sama serta penggunaan istilah “Centrino Duo” pada Platform Centrino yang berbeda, sehingga bagi konsumen awam seringkali membeli suatu produk hanya mengandalkan jargon “Centrino Duo” atau logo Centrino yang melekat pada notebook yang akan dibeli. Berikut saya coba menjabarkan spesifikasi Centrino Platform dan klasifikasi Centrino Platform.

Klasifikasi Centrino…

Pagi ini ada yang unik kudapati dari perjalan menuju tempat kerja, ditengah selimut mendung dan serangan butiran kecil air hujan selintas kulihat seorang lelaki berjalan lunglai. Didepan dadanya tergantung pigura seukuran bingkai foto besar yang dikalungkan di lehernya sementara di bahu kiri tergantung tas kumal sepertinya perlengkapan kerjanya. Nah yang unik adalah tulisan pada pigura yang tergantung di dadanya, pada baris pertamanya berbunyi “PENGOBATAN ALTERNATIP” dimana kata “alternatif”-nya menggunakan konsonan “P” sementara baris berikutnya menerangkan jenis – jenis penyakit yang ditawarkan bisa diobati.

Pengamen Tua…

Pagi ini sedang suntuk – suntuknya (* biasa klo hari senin *) aku di kagetkan oleh dering di saku bajuku, ternyata dari ibunya anak – anak, “wah, koq baru sampe tol jagorawi  ?!!!…” ucapku gusar, gimana gak gusar mo ke bandara ngejar pesawat take off 11.30 berangkat dari bekasi wilayah bogor jam 09 lebih, padahal boarding kan mesti sejam sebelumnya, bener – bener bikin mumet. Doi ternyata minta saran setelah masuk tol dalam kota mending ambil mana tol priuk atau tol grogol, biasanya kujawab “priuk” langsung tetapi mengingat ada ruas tol yang habis terbakar dan masih dalam perbaikan akhirnya kuputuskan googling dolo siapa tahu ada live streaming lalulintas yang bisa dijadikan acuan ambil keputusan mumpung doi masih macet antri bayar tol dalam kota.

streaming gatot subroto…

Ada warna lain seiring maraknya pembangunan koridor baru Bus Way yakni makin banyak saja jumlah penampakan “polisi biru” yang bertugas di jalan raya, meski kelahirannya dulu hanya “sekedar” untuk mengatur terminal – terminal buskota, kini selain ada yang menunggangi motor besar layaknya polisi patwal, bahkan beberapa ada yang bertindak seperti polisi lalu lintas dengan menilang pengguna jalan khususnya angkutan umum, truk dan mobil bak terbuka.

Yuuuk koboy – koboyan…

Di bulan puasa ini ternyata mudah sekali berbuat dosa, hanya karena terusik dengan postingan Q-SRUH jadilah saya berburuk sangka dengan saudara seiman, barangkali karena prasangka saya yang kurang baik sehingga menuai hasil yang tidak baik pula walau saya telah berusaha menyampaikan dengan baik. Meski begitu saya tetap percaya bahwa niat baik akan lebih mengena jika disampaikan secara baik pula.

Sebagai rasa penyesalan akan kesalahan saya dan juga mungkin bisa berfaedah buat yang lain, saya tuangkan disini  komen yang saya ambil dari sini.

alex says…

Beberapa hari belakangan ini pengguna jalan sisi luar tol dalam kota khususnya sekitar pancoran, semanggi, slipi & tomang kian macet dan tidak beraturan, selain keberadaan rambu jalur kiri sepada motor (* yang sering kali jadi mengganggu dan malah sering ditabrak baik oleh motor maupun mobil *), kini ditambah lagi dengan penyempitan jalan karena satu jalur paling kanan ditinggikan untuk keperluan “BUS WAY KORIDOR IX“. Untuk “rombongan pagi” menuju arah grogol, terparah di sekitar ruas jalan palmerah –  slipi sampai mall taman anggrek, kemacetan sudah dirasakan mulai dari depan MPR sampai jembatan tomang dimana jarak tempuh yang biasanya hanya sekitar 15 menit kini bisa lebih dari 45 menit (* dengan roda dua *). Demikian juga sebaliknya untuk “rombongan sore” kemacetan yang kian parah sudah terasa semenjak perempatan slipi jaya sampai  semanggi berlanjut hingga selepas pancoran. dihari – hari sebelumnya yang biasanya hanya sekedar “macet” kini semenjak kehadiran jalur Bus Way koridor IX menjadi macet parah sampai parah sekali.

Macet lagi… lagi – lagi macet…

Selamat Jalan Ande…

Buat kami orang minang tentu paham sekali pepatah lama yang mengatakan “untung tak dapat di raih, malang tak dapat ditolak”, dulu buat saya pribadi pepatah ini sering saya anggap pepatah orang lemah, bagaimana tidak ?, dari dua mata kata yang saling mengkait, dua – duanya menyiratkan kelemahan, ketidakberdayaan dan keputus-asaan. Tetapi hari ini saya sadari bahwa makna pepatah itu ternyata luas, dan salah satunya hari ini saya amini.

Bengkulu gempa” selintas terdengar berita di tv sepulang kerja, dalam hati saya berkata “ahh… sudah biasa…” tanpa terbersit rasa apapun, aktifitaspun berjalan seperti biasa, namun ketika tengah malam sekitar 23.30 telpon rumah berbunyi, baru terasa ada sesuatu yang terjadi, dan benar saja dering telpon rumah tadi membawa khabar duka, Ande telah berpulang bersamaan dengan gempa yang tadi dibengkulu datang, yang meluluh lantakan rumah kediamannya, beserta penghuni – penghuninya.

Namun barangkali masih ada “untung” yang masih bisa diraih, meski terkesan ironi, “untung” masih ada yang selamat, sebab buah hati Ande tersayang masih bisa diselamatkan, meski saat ini masih mengerang di rumah sakit setempat. Dan masih ada “untung” yang lain, sebab gempa yang kembali datang kali ini menimpa tanah leluhur bumi Minang, inilah ironi kedua, sebab dikala saudara sekampung berduka, saya masih dapatkan “untung” berikutnya. Sebab adik tercinta yang menimba ilmu disana, Alhamdulillah selamat adanya, begitujuga kerabat lainnya.

Hari ini puasa pertama, dan hari ini pula puasa pertama yang tak dapat diraih Ande, selamat jalan Ande, semoga ALLAH mudahkan jalanmu, semoga ALLAH hapuskan khilaf – khilaf yang pernah Ande lakukan dan semoga ALLAH berikan yang terbaik yang telah ALLAH janjikan.

Ande ma’afkan ponakanmu ini yang tak sempat bertukar kata, ma’afkan pula khilaf – khilaf ponakanmu ini baik yang disengaja maupun tersengaja, semoga engkau berjalan tenang menghampiriNYA…

Selamat jalan Ande tercinta…

Older Posts »