Pada pertemuan, tahukah kau apa yang kurasakan ? sebait dendang tentang cinta yang kian jalang meronta meminta diperjuangkan. Meski coba kubawakan dengan tenang, namun rona merah kegalauan tak pernah bisa kusembunyikan, gelisah dalam bisu duduk menciut termenung disudut bangku kelas paling belakang. Sementara keseharianmu adalah dendang riuh gadis muda menjelang matang, penuh canda ceria layaknya romansa remaja SMA perkotaan. Lalu siapakah aku untuk berani coba berterus-terang ? lelaki kusam dari pinggiran, mengusung asa yang barangkali hanya mimpi belaka, pada rasa yang tidak pernah bisa dipadamkan.
Saat itu kita masih baru mulai kelas satu.
Pada permulaan, kita seringkali beradu pandang, entah aku entah engkau yang memulai menyapu pandang, sementara dadaku kian berdegup kencang, cintaku tetaplah bisu dalam kegamangan, kemudian tertunduk tanda kekalahan, pada rupa diri yang serasa tak pernah bisa dibanggakan, pada keadaan yang tidak akan bisa sama dengan kawan lain seangkatan. Namun entah mengapa senyummu selalu kau suguhkan, disetiap pagi menjelang pelajaran, dan juga petang saat hendak pulang. Sementara cintaku tetaplah kebisuan, bisu terhadap nyali yang kurang nyalang, bisu terhadap kesadaran yang terlalu mengkekang, bisu terhadap cinta yang tak pernah bisa kujabarkan.
Sungguh aku suka melihat kebiasaanmu menutup pintu kelas selepas guru datang.
Pada waktu yang terlewatkan, rinduku yang terpendam kian pudar seiring bayangmu yang kian samar. Hanya sesekali kita bersua diujung jalan, kadang dipintu gerbang kadang juga saat pulang. Aku disisi satunya engkau diseberang, sama - sama menunggu angkutan untuk pulang, tanpa sepatah-katapun terucapkan.
Saat itu kelas dua kita berbeda ruangan.
Pada cinta yang terabaikan, engkau mulai bosan menunggu, sejumput rasa mulai berani kau sampaikan, melalui teman sebangkumu, bahkan kertas hasil ulangankupun kau hantarkan langsung kepadaku, beserta senyum tulus penuh asamu, sementara aku masih kaku, lidahku kelu dan tetap diam berendam dalam bisu. Tak kupedulikan kawan lain yang menyemangatiku dan kuacuhkan teman sebangkumu yang tulus mengabarkan cintamu. Sungguh aku kerdil bodoh yang pemalu.
Saat kita kelas tiga entah kenapa kita kembali seruangan.
Pada perpisahaan, cinta yang bersemi tanpa pertautan meruncing tajam dipenghujung masa kelulusan, engkau masih menunggu sementara aku tetap dalam diamku, hari terakhir UMPTN adalah kala terakhir pula aku melihatmu, duduk menungu diteras selepas bubaran, dan akupun meghindar lewat gerbang belakang.
Entah mengapa ujianpun kita seruangan.
Pada pendewasaan, kubiarkan cinta sunyiku berlalu tanpa penyelesaian, bersama rindu semuku saat kita mulai berjauhan, dan kian berjauhan, dan kemudian hilang bersama waktu berjalan.
Cerita ini hanya cerita fiktif untuk memeriahkan Agustus di Ceritaeka
Continue reading →