Poetry Hujan : Purnama di malam gerimis

Kawan, lihatkah kau luna malam ini ?
ia tengah bersedih
mata bundar pipihnya memutih
kadang nyalang,  seringkali terkatup rapih
dan air matannya yang jatuh pada atapku yang bergincu putih
adalah hujan rinai yang tak jua kunjung letih
sementara malamku sebentar lagi disapih

Kawan, hiburlah kembali lunaku yang bersedih
tanpanya hitam legam malamku jauh dari syahdu
padahal hanya itu milikku satu
diantara ribuan penat onak duri setelah pagi berlalu
serta keluh kesah resah batang – batang padi kepada benalu
dan para kerbau kepada bajaknya sendiri yang berpura lugu

Kawan, kemanakah perginya luna pengantinku ?
malam ini baru pukul tiga selepas satu
apakah ia dibawa pergi hujan yang telah menderu ?
ataukah engkau yang melarikannya dariku ?

Biarlah kutunggu kembali lunaku semusim kapal saudagar berlalu…

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Posted in feelin' Blue | 7 Comments

Poetry Hujan : Nyanyian tepi pantai

Tegak disini pada bentang bumi
termangu pasrah dihimpit sunyi yang gemersik
sepi kali ini kataku kemarin…
sepi saat ini ujarku hari ini…
sementara deru ombak mematahkan makna sunyi
dan camar – camar tetap saja beryanyi tanpa perduli
pada tonggak – tonggak yang berdiri memancang angkuh di pingiran tepi

Ahhh… Senja merajuk hari ini
sedikit tersungut pada mentari yang mulai surut
merajuk pada hujan pemalu yang berkilau diterpa semburat jingga sang mega
dan para camarpun memekik gegap gempita
“sini… sini… nikmati lukisan sang pencipta” ujar mereka
dadaku pun mengembang tanda suka cita
sungguh bahagia adalah kata yang sulit dicerna

Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis

Posted in feelin' Blue | 3 Comments

Poetry Hujan : Aku Pulang…

Ayah, aku pulang…
pada punai – punai yang bersembunyi di rimbun dedaunan
dalam rinai damai hujan petang ranah minang
kupenuhi keinginanmu yang sejak dulu tergadaikan
tuk bersama kita bersimpuh di bumi nenek moyang

Ayah, aku pulang…
kubawa serta adik – adikku dibelakang
bersama pasangan hatimu yang kemarin sejenak kau tinggalkan
dan sedu sedannya yang tak kunjung henti sepanjang jalan
senjapun berpacu liar berkejaran

Ayah, aku pulang…
kau sambut kami bisu dalam diam
dan sekendi air yang telah disiapkan
tergesa kumandikan engkau sekujur badan
teriring do’a yang tak terdengar kuucapkan

Ayah, engkau telah berpulang…
bersama keinginanmu untuk kembali keharibaan ranah minang
meninggalkan penat rantau tempat kami lahir dan engkau besarkan
dan buah dari pahit getir keringat yang telah engkau cucurkan
serta sejumput kenangan yang tak kan terlupakan

Ayah, aku pulang…
rinai hujan telah menjadi deru
senjapun menghitam kian temaram
gundukan tanah merah basah telah kurapikan
dan do’a – do’a yang telah dipanjatkan
semoga ALLAH mengabulkan

Ayah, aku pulang…
bersama duka yang kian menganga
dan kerinduan tanpa tepi diujung cakrawala
bumimu kian jauh mengerdil kutinggalkan
sementara dawai hujan belum juga mau berhenti bersahutan
disini diatas awan… dan bersemayam diam mendekam diujung hati terdalam…

Continue reading

Posted in feelin' Blue, Sejumput Kenangan | 8 Comments

Selamat Bertugas Pak Timur

Salah satu berkah (kalau dianggap terlalu ekstrim disebut dampak negatif) dari bergulirnya reformasi adalah kebebasan media yang terbuka sebebas-bebasnya. Bahkan jika akhirnya menabrak kebebasan pihak lain pun dianggap biasa dan lumrah, tengoklah liputan infotainmen yang jelas – jelas menabrak kebebasan si objek yang diliput atau kasus majalah porno playboy Indonesia ketika penggagas majalah tersebut di ciduk polisi, bukan main kuatnya dukungan dari sesama pekerja media.

Bahkan dalam salah satu acara diskusi (Jakarta Lawyers Club) sang pembawa acara (Karni Ilyas) dalam bentuk protesnya kepada anggota komisi hukum DPR yang hadir sampai meyisipi pesan khusus terhadap masalah majalah playboy ini dengan ungkapan bahwa lebih baik memperkosa daripada menerbitkan majalah playboy karena tuntutan hukumanya lebih tinggi kasus pornografi daripada kasus perkosaan, padahal materi diskusi bukan mengenai hukum yang ada kaitannya dengan pasal pornografi.
Continue reading

Posted in Sok Tau ahhhh... | 5 Comments

Senja di Bandar Jakarta

Kata orang bijak penghibur diri yang terbaik adalah alam, alam bisa melenturkan emosi mencairkan hati, bahkan penat yang tiap hari menjadi penggerus diri pun bisa terobati.

Paling tidak untuk sejenak menghimpun kembali semangat dan tenaga untuk esok hari.

Yang termudah bisa dinikmati dari alam adalah kala senja menjelang. Ketika semburat lembayung mulai menghiasi langit dan mentari yang kian ramah lembut menerangi, entah dijalan bisa dirumah atau sudah tentu kala kita berada di tepi pantai, pergantian siang pada malam sungguh serasa menjadi karunia terindah Tuhan terhadap hari.

Continue reading

Posted in Gado - Gado | 1 Comment

Q! Film Festival

Mau dibawa kemana hubungan kitaaaaaa…” hehehe lagu nyendal – nyendul ini belakangan mulai jarang kedengaran, kalau saya cukil sebagian syairnya bukan karena saya penggemar lagu tersebut tapi kebetulan saja syairnya cocok buat hati saya yang kian hari kian gundah ini hehehe halah jadi sok melo qiqiqi…

Lalu apa hubunganya dengan Q! Film Festival ? ya mbuh, entahlah, cuma kalau pembaca yang budiman pernah mendengar festival film yang satu ini tentu mahfum kalau ini bukan festival film biasa. Betul ! festival film ini  mengkhususkan film-film tentang kehidupan para gay dan lesbian aka pelaku pencinta sesama jenis. Lha terus apa urusan kita ? wong di negara yang “sudah maju” budayanya hal tersebut sudah biasa, bahkan sudah ada beberapa negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis, kenapa kita mesti usil dengan urusan moral seseorang ? betul ?…

Betul ndasmu ! lah kalau itu festival di negara antah berantah siy gak masalah tapi wong festival ini dilaksanakan di sini je, di Indonesia yang katanya negara yang penduduknya berbudaya halus dan penuh sopan santun, yang ceritanya negeri yang sangat kental nilai-nilai keagamaanya, yang faktanya adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, lagipula apa iya ada agama yang mengajarkan kehalalan pernikahan sesama jenis ? lantas kalau ada yang menghalalkan lalu mau dibawa kemana hubungan tersebut ? trus apa sih makna pernikahan ? apa sekedar melegalkan hubungan seks hingga tidak perlu harus antara lelaki dan perempuan ? halah lagi – lagi pertanyaan klise,  sama klisenya dengan alasan “kebhinekaan” dan “kebebasan beragama” yang seringkali salah kaprah dijual para pengusung SEPILIS demi menjejalkan faham sekulerisme, pluralisme dan liberalisme agama yang kian hari kian kencang di negri tercinta ini.

Setelah paham sekulerisme, pluralisme dan liberalisme agama dikumandangankan dan dijejalkan via media-media dan pengamat-pengamat yang memiliki sejuta label seperti cendikiawan, budayawan dan label – label tetek-bengek lainnya, kini kehidupan menyimpangpun kian diumbar atas nama hak asasi manusia, atas nama menghormati perbedaan, dan atas nama – atas nama lainnya.

Jika ada segolongan orang mulai curiga ada agenda tersembunyi yang sedang dijalankan apakah bisa disalahkan ? bukankah faktanya begitu banyak tv – tv swasta yang menayangkan VOA (Voice of America) dengan entah apa tujuan akhirnya ? dan hampir dalam setiap acara diskusi, debat, temu panel, dan lainnya pada hampir seluruh tema (politik, hukum, budaya, agama, dll.) selalu saja ada narasumber pengusung sepilis yang ditampilkan ?

Cuma kalau mau berkaca pada sejarah, kita memang harus hati – hati, sebagai penyegaran sejarah mumpung sekarang tanggal 30 September, silahkan dilihat lagi intrik intelejen dalam kasus G 30 S yang menghebohkan itu yang diulas detik.com :

1. Fakta Baru G30S (1) Intelijen Komunis Cekoslowakia Ikut Bermain

2. Fakta Baru G30S (2) Faktor Agen Pavka dan Seorang Pociatek

3. Fakta Baru G30S (3)Target Intelijen Cekoslowakia: Melumpuhkan Upaya Amerika

4. Fakta Baru G30S (4) ‘Berita Koran dan Palmer Agen CIA’

Meski ulasan tersebut lebih menitik beratkan kepada menyudutkan lawan CIA (intelejen Ceko), paling tidak dari ulasan tersebut kita bisa mahfum bahwa memang dalam sejarah negri ini tidak terlepas dari intervensi negara-negara lain yang coba menjejalkan faham yang menurut mereka “paling benar” dan bukan kebetulan bidang yang paling sering dijadikan tunggangan adalah “seni dan budaya”

Kembali kepada cukilan bait lagu diawal postingan ini, mari kita dendangkan gubahan terbaru bait lagu tersebut untuk para pemimpin kita:  “Mau dibawa kemana negeri iniiiiii…

Posted in Insyaf Yuuu... | Tagged | 12 Comments

Cinta Sunyi

Pada pertemuan, tahukah kau apa yang kurasakan ? sebait dendang tentang cinta yang kian jalang meronta meminta diperjuangkan. Meski coba kubawakan dengan tenang, namun rona merah kegalauan tak pernah bisa kusembunyikan, gelisah dalam bisu duduk menciut termenung disudut bangku kelas paling belakang.  Sementara keseharianmu adalah dendang riuh gadis muda menjelang matang, penuh canda ceria layaknya romansa remaja SMA perkotaan. Lalu siapakah aku untuk berani coba berterus-terang ? lelaki kusam dari pinggiran, mengusung asa yang barangkali hanya mimpi belaka, pada rasa yang tidak pernah bisa dipadamkan.

Saat itu kita masih baru mulai kelas satu.

Pada permulaan, kita seringkali beradu pandang, entah aku entah engkau yang memulai menyapu pandang, sementara dadaku kian berdegup kencang, cintaku tetaplah bisu dalam kegamangan, kemudian tertunduk tanda kekalahan, pada rupa diri yang serasa tak pernah bisa dibanggakan, pada keadaan yang tidak akan bisa sama dengan kawan lain seangkatan. Namun entah mengapa senyummu selalu kau suguhkan, disetiap pagi menjelang pelajaran, dan juga petang saat hendak pulang. Sementara cintaku tetaplah kebisuan, bisu terhadap nyali yang kurang nyalang, bisu terhadap kesadaran yang terlalu mengkekang, bisu terhadap cinta yang tak pernah bisa kujabarkan.

Sungguh aku suka melihat kebiasaanmu menutup pintu kelas selepas guru datang.

Pada waktu yang terlewatkan, rinduku yang terpendam kian pudar seiring bayangmu yang kian samar. Hanya sesekali kita bersua diujung jalan, kadang dipintu gerbang kadang juga saat pulang. Aku disisi satunya engkau diseberang, sama -  sama menunggu angkutan untuk pulang, tanpa sepatah-katapun terucapkan.

Saat itu kelas dua kita berbeda ruangan.

Pada cinta yang terabaikan, engkau mulai bosan menunggu, sejumput rasa mulai berani kau sampaikan, melalui teman sebangkumu, bahkan kertas hasil ulangankupun kau hantarkan langsung kepadaku, beserta senyum tulus penuh asamu, sementara aku masih  kaku, lidahku kelu dan tetap diam berendam dalam bisu. Tak kupedulikan kawan lain yang menyemangatiku dan kuacuhkan teman sebangkumu yang tulus mengabarkan cintamu. Sungguh aku kerdil bodoh yang pemalu.

Saat kita kelas tiga entah kenapa kita kembali seruangan.

Pada perpisahaan, cinta yang bersemi tanpa pertautan meruncing tajam dipenghujung masa kelulusan, engkau masih menunggu sementara aku tetap dalam diamku, hari terakhir UMPTN adalah kala terakhir pula aku melihatmu, duduk menungu diteras selepas bubaran, dan akupun meghindar lewat gerbang belakang.

Entah mengapa ujianpun kita seruangan.

Pada pendewasaan, kubiarkan cinta sunyiku berlalu tanpa penyelesaian, bersama rindu semuku saat kita mulai berjauhan, dan kian berjauhan, dan kemudian hilang bersama waktu berjalan.

Cerita ini hanya cerita fiktif untuk memeriahkan Agustus di Ceritaeka

Continue reading

Posted in feelin' Blue | 27 Comments