Pernikahan beda agama

Asslamu ‘alaikum Wr. Wb.

Baru-baru ini kita dikejutkan oleh pernikahan pasangan pria selebriti dengan seorang wanita (sy lupa namanya). Dedi seperti kita ketahui beragama kristen sedang pasangannya beragama islam. Pada saat menikah dia mengaku memakai tata cara islam tetapi dia tetap mempertahankan agamanya.

Yang mengherankan (menurut pengakuan Dedi) dia dinikahkan oleh petugas KUA yang notabene bergelar MA. Yang saya tanyakan bagaimana sebenarnya hukum pernikahan seperti ini, apakah sah/tidak? Dalam pengamatan saya, agama (dalam hal ini Islam) seperti dijadikan tameng saja biar masyarakat tidak memberi cap jelek. Apakah tidak ada tindak lanjut dari MUI atau yang berwenang lainnya untuk masalah ini.

Bagaimana jika sampai muncul anggapan Islam memberi fasilitas untuk kegiatan seperti ini?

Wassalaamu ‘alaikum Wr. Wb.

Riezt

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, washshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah,Waba’du

Islam adalah yang menjadi rahmat bagi alam semesta, bukan hanya untuk pemeluknya saja, tetapi juga untuk pemeluk agama lainnya. Sejarah emas perjalanan umat Islam selama lebih dari 14 abad telah membuktikan bagaimana sikap toleransi dan santun, terutama kepada pemeluk agama lain. Itulah salah satu rahasia mengapa agama Islam demikian cepat tersebar dalam waktu cepat ke berbagai peradaban umat manusia.

Ulama Sepakat Mengharamkan Wanita Muslimah Dinikahi Laki-laki Non Muslim
Para ulama sepakat untuk mengharamkan wanita muslimah dinikahi oleh laki-laki yang bukan muslim. Apakah laki-laki itu ahli kitab atau pun penyembah berhala atau seorang atheis sekalipun. Keharamannya mutlak dan secara tegas disebutkan di dalam Al-QuranAl-Karim.

Dan janganlah kamu menikahkan laki-laki musyrik (dengan wanita muslimah) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari orang musyrik,walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak kesurga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran“. (QS. Al-Baqarah : 221).

Bila seorang wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim, baik ahli kitab maupun yang lainnya, maka hukumnya haram. Bila mereka melakukan hubungan suami istri, maka itu merupakan zina. Dan konsekuensi hukum lainnya adalah anak yang dilahirkannya meski memeluk Islam, tapi tidak bisa berwali kepada ayahnya lantaran beda agama.

Begitu juga konsekuensi hukumnya sampai kepada masalah hukum waris. Dimana para ulama umumnya mengatakan bahwa perbedaan agama mengakibatkan tidak bisa saling mewarisi. Artinya, istri yang muslimah tidak bisa mewarisi harta suaminya yang bukan Islam dan sebaliknya suami pun tidak bisa mewarisi harta istrinya.

Tentang komentar anda bahwa ada seorang tokoh yang menikahkan mereka, dia adalah Dr. Zaenun Kamal, MA. Seorang staff pengajar di UIN Jakarta dan di beberapa lembaga pendidikan lainnya. Tokoh ini sejak dahulu memang terkenal agak ‘aneh’ dengan pendapat-pendapat kontroversialnya. Semua orang yang mengenalnya (termasuk kami) sudah maklum dengan sikapnya.

Yang jelas, dia bukan doktor di bidang syariah, disiplin ilmunya adalah filsafat dan hal-hal yang terkait dengan wilayah itu. Sehingga kurang bijaksana untuk menjadikan tokoh ‘kontroversial’ ini sebagai rujukan dalam masalah fiqih. Sebaiknya kita merujuk suatu urusan kepada ahlinya yang profesional di bidangnya, agar tidak salah jalan dan tersesat tak tahu arah.

Kebolehan Laki-laki Muslim Menikahi Wanita Ahli Kitab

Salah satu bentuk toleransi dan penghargaan agama Islam kepada agama lain adalah beberapa ketentuan syariat atas pemeluk agama ahli kitab. Nyata dan tegas di dalam syariat Islam disebutkan bahwa makanan (sembelihan) ahli kitab hukumnya halal buatumat Islam. Demikian juga menikahi wanita ahli kitab pun dihalalkan dalam Al-Quran, Sunnah dan ijma para ulama.

Ketetapan ini merupakan ketentuan yang datang langsung dari Allah SWT di dalam firman-Nya :

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan orang-orang yang diberi AlKitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal bagi mereka. wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orangmerugi. (QS. Al-Maidah : 5)

Terkait dengan hukum menikah antara agama, berdasarkan firman Allah SWT di atas, para ulama sepakat menetapkan kebolehan laki-laki muslim untuk menikahi wanita darikalangan ahli kitab, baik yahudi maupun nasrani. Tetapi selain wanita ahli kitab, hukumnya tetap haram. Yaitu wanita pemeluk agama berhala seperti Konghuchu, Hindu, Budha, Shinto dan lainnya.

Sedangkan bila sebaliknya, para ulama sepakat mengharamkan wanita muslimah dinikahi oleh laki-laki non muslm, baik dari kalangan ahli kitab maupun agama penyembah berhala. Namun meski pun laki-laki muslim secara hukum dihalalkan untuk menikahi wanita ahli kitab baik dari kalangan yahudi atau nasrani, tidak berarti harus ditempatkan pada posisi prioritas utama.

Sebab selain urusan kehalalan dari segi hukum, tetap harus ada banyak pertimbangan lainnya. Seperti masalah pendidikan anak yang seharusnya diserahkan kepada seorang ibu yang muslimah, agar sejak dini anak itu bisa dididik dengan pendidikan Islam yang benar.

Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk menikahi wanita karena agama dan kesholehannya, meski dibolehkan juga untuk mempertimbangkan hal lainnya seperti kecantikan, keturunan dan kekayaan. Karena dengan bekal agama dan kesholehannya, iman kita lebih terjaga dan anak-anak kita akan mendapatkan pendidikan Islami sejak dini tanpa banyak hambatan.

Tapi bila istri berbeda agama, sulit membayangkan bisa terbentuk keluarga yang islami. Susah untuk bisa menyelenggarakan makan sahur bersama, atau shalat berjamaah sekeluarga atau mengaji bersama. Dan akhirnya, sulit untuk membayangkan wajah-wajah penuh tanya dari anak-anak kita nantinya, “Kenapa mama tidak shalat ?”. “Kenapa mama masuk neraka, padahal dia baik?”. Jadi akan lebih bijaksana dan lebih baik untuk berpikir dua kali dahulu dari pada terburu nafsu.

Yang Mengharamkan Nikah Antar Agama

Karena itulah kemudian ada sebagian ulama yang masih belum bisa menerima kebolehan laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab. Misalnya pendapat Ibnu Umar ra yang mengatakan bahwa wanita nasrani itu musyrik. Selain itu ada Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa tidak ada yang lebih musyrik dari orang yang mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa as. Sehingga untuk itu mereka menyamaratakan saja untuk mengharamkan laki-laki muslim menikahi wanita ahli kitab.

Wallahu a’lam bishshawab.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc

//

About Ferry ZK

Aku adalah gumpalan daging gempal yang membungkus tengkorak yang pada bagian luarnya diberi bentuk sehingga bisa digolongkan sebagai manusia.
This entry was posted in Fiqih Ahmad Sarwat, LC and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Pernikahan beda agama

  1. Dan says:

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Maaf ustad, saya mau bertanya.
    Saya laki-laki beragama nasrani, akan menikahi perempuan muslim. Keinginan saya nanti ingin menjalani kehidupan rumah tangga dengan 1 agama. Masalahnya Ustad dari dulu saya selalu beri kebebasan kepada calon istri saya ini untuk mencari laki-laki muslim, sedangkan saya sudah niatkan memang tidak menikah. memang sudah nasib cinta tidak sesuai keinginan. Tapi seiring berjalannya waktu calon istri saya ini kembali & lebih memilih saya sebagai calon suaminya. Kata calon istri saya, dia tidak mau ikut umroh ataupun jadi hajjah karena tidak mau menyakiti hati keluarganya bila nanti pindah agama & tetap menunggu kepastian kami. Menurut pengalaman saya hidup pak ustad, di daerah saya beberapa perempuan nasrani menikah dengan laki-laki muslim ikut suaminya jadi islam. Dalam kasus saya ini, adil apa tidak jika saya meminta calon istri saya masuk kristen, karena saya yang akan jadi kepala rumah tangga. Dalam Alquran seorang nasrani disebut ahli kitab, saya juga pernah baca bahwa diijinkan perempuan muslim menikah dengan laki-laki dari nasrani-Ahli kitab. Pak Ustad percaya apa tidak dengan pernyataan jika kita setuju menerima seorang perempuan nasrani masuk islam & mendukungnya karena mualaf. Apakah tidak adil juga jika jika kita tidak menghujat orang yang murtad karena pilihan hidupnya. Bagaimana pendapat Pak Ustad dengan tulisan ini “Hubungan manusia dengan Tuhan bersifat pribadi” jadi jika mualaf atau murtad adalah hak manusia itu sendiri. Saya menghargai Islam tapi saya hidup di negara yang hanya mengizinkan pernikahan satu agama. Sudah saatnya kita bisa saling toleransi & saling menghargai. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s