Pengamen dengan daftar tarif

Pagi ini ada yang unik kudapati dari perjalan menuju tempat kerja, ditengah selimut mendung dan serangan butiran kecil air hujan selintas kulihat seorang lelaki berjalan lunglai. Didepan dadanya tergantung pigura seukuran bingkai foto besar yang dikalungkan di lehernya sementara di bahu kiri tergantung tas kumal sepertinya perlengkapan kerjanya. Nah yang unik adalah tulisan pada pigura yang tergantung di dadanya, pada baris pertamanya berbunyi “PENGOBATAN ALTERNATIP” dimana kata “alternatif”-nya menggunakan konsonan “P” sementara baris berikutnya menerangkan jenis – jenis penyakit yang ditawarkan bisa diobati.

Terbersit pertanyaan dalam hati, dimana letak perbedaan lelaki lusuh ini dengan “pakar – pakar” pengobatan alternatif lainya yang kadang dengan bangga nongkrong dilayar kaca atau minimal mejeng di media massa ? apakah beda kesaktian ? ataukah beda aliran ? atau barangkali beda kemampuan mendanai marketingnya ?  entahlah yang jelas semangat lelaki lusuh ini tidak pudar meski harus mengukur jalan mungkin hingga puluhan kilometer walau disengat terik maupun diterjang hujan.

Pigura di dada lelaki lusuh tersebut mengingatkan ku kepada kejadian belasan tahun silam ketika masih tinggal di rumah orang tua, di suatu siang yang terik tiba – tiba datang seorang pengamen tua (* kutaksir usianya sekitar 70-an meski terlihat tetap sehat dan kuat *) dengan alat musik seadanya (* kumpulan tutup bolol yang di pipihkan dan di paku pada kayu *), tidak seperti pengamen lainya, pengamen tua tersebut mengucapkan salam terlebih dahulu dan menawarkan jasanya yang ternyata tertulis di selembar karton yang di gantungkan dilehernya. Pengamen tersebut mulai menerangkan beberapa jasa yang bisa ia berikan sesuai yang tertulis di lembaran karton di dadanya antara lain “menyanyi Rp. 100”, “menyanyi dengan musik Rp. 150”, “menyanyi dengan musik + menari Rp. 500” sambil meyakinkanku bahwa aku bisa memilih lagu sesukaku atau meminta jenis tarian apapun yang kusenangi.

Akhirnya kupilih jasa “menyanyi” saja dan lagunya terserah si pengamen tua tersebut, dan mulailah ia menyanyi dengan penuh ceria meski tak jelas apa yang di dendangkan (* maklum giginya dah hampir habis *) dan setelah selesai kuberikan ia uang seharga “menyanyi dengan musik + menari”, ia mengucapkan beberapa kali terima kasih dan bergegas menuju pintu beikutnya. Penasaran kutengok lagi pengamen tua tersebut, setelah beberapa pintu menolak (* dan pengamen tua tersebut tetap mengembang senyum di pipi tuanya yang kempot *) ada juga yang mau “menggunakan jasanya” dan ironisnya “ditanggap pula” sebab kulihat si pengamen tua menyanyi sambil berputar – putar dan melompat – lompat (* barangkali jasa yang dipilih “menyanyi dengan musik + menari” *), ingin rasanya kumaki tetanggaku itu, tapi kusadari mungkin untuk lelaki tua pengamen itu tidak masalah malah bersyukur sebab akan ada lagi tambahan uang untuknya, entahlah…

Di usia senjanya kian tertatih, meski kelam jalan yang terbentang, tetapkan senyum terus mengembang tanpa prasangka buruk terhadap Tuhan penguasa alam,,,

* Teriring do’a untuk kakekku yang tak pernah bersua, seberat itukah derita tuamu ??? *

About Ferry ZK

Aku adalah gumpalan daging gempal yang membungkus tengkorak yang pada bagian luarnya diberi bentuk sehingga bisa digolongkan sebagai manusia.
This entry was posted in Gado - Gado. Bookmark the permalink.

16 Responses to Pengamen dengan daftar tarif

  1. benbego says:

    sempet2nya merhatiin iklan pengobatan alternatif.
    lam kenal..
    pertamaxxx!

  2. mbelgedez says:

    Taun 96-97 pas ngantor di Landmark Building Sudirman, ada bapak tua nyang nadah tangan di pintu keluar parkir, nggantungin tulisan di dadanya;

    Saya kena stroke, butuh dana untuk berobat. tolong dibantu….

    Tangan nadah doank tanpa terucap satu kata pun…

  3. Terharu…
    Jadi sedih.
    Salam.

  4. Ferry ZK says:

    @ benbego,

    hehehe begitulah, btw dah pinter lommmm ???😛

    @ bozz mbel,

    halah kena stroke koq pamer hi.. hi..

    @ bro dewo,

    ho’oh tp yang gw salut, beliau tetap senyum & semangat hebat yaaa… bahkan “ditanggap” ma anak kecil aja tetap senyum….

  5. Bachtiar says:

    Terharu….

    Kasiyan sekali . . . .

  6. kendi says:

    touching…. nice posting…

    mudah2an bisa menjadi pelajaran dan renungan berarti untuk gw dan keluarga

  7. rozenesia says:

    Duh, jadi sedih sendiri…😦

  8. Ferry ZK says:

    @ Pak bachtiar,

    iya Pak, tapi juga luar biasa, bisa mensyukuri keterbatasan dengan keikhlasan & sepertinya bukan senyum yang dibuat – buat coz selain tarikan bibir, wajah pengamen tua itu juga teduh dan ceria, itu yang membuat saya selalu teringat beliau…

    @ kendi,

    bisa gak ya kita seperti beliau ? bukankah kita sedikit lebih lapang dari beliau ?… ini juga lecutan buat gw pribadi…

    @ rozenesia,

    he’eh tp kayaknya beliau enggak tuh…

  9. lyntrias says:

    sedih…bener bener sedih….
    kalo dah lihat yang begitu…aku sering terhenyak juga trus kepikir masa tuaku nanti gimana ya…
    Kalau kita sampai terpuruk…apakah bisa setabah si kakek itu?

  10. Ferry ZK says:

    iya bune, moga – moga hari tua kita lebih baik… amiiinnn…

  11. Bachtiar says:

    Perjalanan hidup Pak!, memang kadang sangat ironis, seperti anak kecil penjual “ulekan” yang Kemang Pratama itu (pernah lihat ‘ga?), kasihan…,
    Memang sih kita hanya sebatas kasihan, ‘ga bisa berbuat banyak.

    btw, kalo ‘ga salah Bachtiar yang diatas itu “kembaran..kebetulan”. blog dia Bachtiar on the web, kalo yang comment ini “BachtiarDotStmr” hee hee….

  12. ZulFazri Kasmi says:

    alah…. semestinya di tanya tuh ngasih berapa dia sama si penyedia jasa alternatifnya…. ? jangan2 ga sepeserpun ^^

  13. Ferry ZK says:

    @ Pak Bachtiar,

    Iya Pak, di Villa Nusa Indah juga waktu puasa banyak Pak, klo itu kayaknya ada yng drop ya Pak ?

    Ooooo gicu ya Pak, saya baru nyadar hihihi…

    @ Bocah Tengil,

    Emangnya Lo ! wakakaka…

  14. celotehsaya says:

    menikmati sekali ya orang-orang itu…

    saya kok jadi merasa bersalah….saya ini kerja di ruangan ber-AC dengan kursi empuk masi aja kerjanya sambil ngumpat-ngumpat

    *belagak orang penting, SMA aja belum lulus*

  15. Ferry ZK says:

    hihihi enak dunk… koq masih menggerutu seh ????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s