Buruk keluar, buruk datang meski baik jadi angan…

Di bulan puasa ini ternyata mudah sekali berbuat dosa, hanya karena terusik dengan postingan Q-SRUH jadilah saya berburuk sangka dengan saudara seiman, barangkali karena prasangka saya yang kurang baik sehingga menuai hasil yang tidak baik pula walau saya telah berusaha menyampaikan dengan baik. Meski begitu saya tetap percaya bahwa niat baik akan lebih mengena jika disampaikan secara baik pula.

Sebagai rasa penyesalan akan kesalahan saya dan juga mungkin bisa berfaedah buat yang lain, saya tuangkan disini  komen yang saya ambil dari sini.

Komen dari alex # 29 :

@ Ferry ZK

Saya minta ma’af kalau persepsi saya tentang anda keliru mungkin karena saya terbiasa bertemu dengan pengagum islib dengan gaya bahasa yang hampir mirip dengan gaya bahasa anda, komen anda di # 21 telah menyadarkan saya, sekali lagi saya minta ma’af.

Untuk satu hal yang harus dicatat: bisa saja gaya bahasa saya mirip. Tapi saya dengan lantang saya katakan; liberalisasi Islam sedemikian adalah salah di mata saya.
Kenapa? Karena tak ada yang perlu diliberalkan. Jika liberal diartikan seperti slogan “liberte, freternite, egalite”-nya Revolusi Perancis, we have it already.

Futhu’Mekah sendiri menjadi catatan, bahwa Islam tidak memaksa. Apa susahnya saat itu Muhammad sebagai pemenang perang,memancung semua kepala musuh-musuhnya terutama para pemuka Quraisy yang sudah membuat muslim harus hijrah ke Madinah? Karena kemanusiaan!

Hal lain yang saya tolak dari liberalisasi Islam itu, adalah penarikan ide-ide yang terlalu western-mainded. Dalam hal ini saya sepakat denan Ali Shariati – terlepas apakah beliau syiah atau sunni – bahwa Islam memiliki khazanah pemikiran sendiri, tanpa mesti diimpor secara keterlaluan.

Lalu kenapa sampai muncul orang-orang sejenis Ulil cs? Karena mereka merasa jadi penyeimbang fanatisme yang terlalu radikal (yang memang mesti diakui, ada). Sayangnya, ulil cs “ke-ge-er-an” hingga kemudian “besar kepala” dengan kebanggan pemikiran impor dari Eropa.

Saya tidak benci eropa atau barat. Barat dan Timur itu adalah kepunyaan Allah juga. Cuma saya beranggapan, jika islamlib taqlid dengan liberal-nya, maka tidak ada beda dengan islam fanatik yang taqlid dengan SOSOK dan bukan AGAMA itu sendiri.

Saya sendiri membaca-baca juga. Apapun. Dari Karl Marx sampai Mein Kampf. Dari Tahafut Al Falasifah-nya Ghazali sampai Tahafut Al Tahafut-nya Ibnu Rusyd. Untuk apa? Untuk wawasan, bukan untuk saya telan mentah-mentah.

Kalo anda berpikir saya liberal seperti islamlib, anda salah orang. Pengagungan akal dengan wajah kagum memandang kagum ke pemikir Eropa, maaf-maaf, saya cengiri, karena di pesantren saya sudah pernah belajar Ilmu Mantiq-nya Syafii. Dan itu basis pemikiran saya.

Dalam hal kiri dan kanan, saya ambil yang baik, sepanjang TIDAK MENYALAHI 5 RUKUN ISLAM DAN 6 RUKUN IMAN yang saya yakini. Dalam keseharian, saya cenderung sosialis. Kecenderungan pada ide Shariati, Ghiffari dan Ali bin Abi Thalib. Kenapa?
Karena “Kadzal fakru ayakunal kuffra”. Kemiskinan itu dekat pada kekufuran. Dan dalam hal sosial, patron saya ya perjuangan yang grass-root begini. Bukan dakwah ibadah saja – yang mana saya belum masuk dalam kalangan ‘abid.

Saya sendiri tidak menyukai orang yang dengan mudah mengkafirkan sesama muslim, bahkan sampai saat ini saya tidak memandang penganut islib sebagai kafir tetapi cara pandang mereka sungguh menyedihkan dan tidak seharusnya diajarkan.

Sama. Saya juga tidak suka. Ingat pada kasus salah satu tentara muslim membunuh musuh yang sudah mengucap syahadat lalu ditegur oleh Rasulullah?? Itu pegangan saya. Tidak mudah sebelum terbukti ia menolak 5 rukun Islam dan 6 rukun Iman.

Islamlib sendiri di mata saya masih muslim, tapi sama melencengnya dengan islam radikal yang sering bikin rusuh atas nama agama. Perbedaannya; islamlib “merusak” dalam tataran pemikiran, sementara islamradikal sudah dalam tataran sosial-masyarakat. Dengan parang, dengan pentungan. Dan itu sama-samam buruknya.

Ijtihad terhadap kehidupan sosial tentu sah – sah saja selama masih sejalan dengan koridor ISLAM

Sepakat. Karena itu saya tidak pernah bicara masalah ibadah yang sudah fardhu kifayah dalam agama, dan tidak bertanya tentang zat Allah. Tapi dalam hal sosial, saya akan berijtihad, jika bisa disebut ijtihad perbuatan saya.

Contoh kasus: di kampung, awal tahun kuliah, saat saya pulang, saya dan kawan-kawan pernah protes tentang MAULID NABI. Bukan MAULID-nya yang kami protes, tapi KEMUBAZIRAN dari dana maulid. Anda terenyuh tidak melihat nasi terbuang kesana-kemari, kue-kue menjadi basi, dan acara megah-megah, sementara semua hal itu seharusnya lebih baik digunakan untuk fakir miskin dan anak yatim? Imajinasi saya, Rasulullah pun akan marah meliat umatnya mengagungkan kelahirannya, namun dengan kemubaziran dana yang seharusnya bisa menjadi dana beasiswa pada anak-anak tidak mampu.Tidakkah beliau sendiri juga anak yatim, juga anak tidak mampu dahulunya?

Ferry, anda orang Minang, bukan? Tahukah anda bahwa Islam di Aceh saling bertimbal-balik dengan Minang? Pendiri PERTI di Aceh ini adalah orang sana. Cenderung fanatik, tapi masih toleran. Pesantren saya dulu sendiri aliran PERTI.

Apa jadinya saat ini? Aceh cuma nama Serambi Mekah dengan andalan qanun Syariat Islam. Masyarakat di sini tertawa, meski tidak menolak. Karena Syariat Islam dijadikan lawakan birokrat, untuk menutupi usaha-usaha hukum pada kelas “tinggi”. Jadinya cuma seperti pisau dapur yang tajam ke bawah tapi tumpul ke atas.

Untung di daerah asalku masih agak-agak sama dengan Kota Santri. Anak-anak masih mengaji di sore hari. Perempuan berjilbab tanpa perlu WH ribut-ribut patroli, karena mereka patroli pun akan dicengiri.

Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, moto di Minang bukan? Nah, ini? Adat pun mau diberantas secara frontal dimana-mana. Arabisasi dimana-mana. Apa itu?

tetapi saya juga tidak suka ada orang yang mentertawakan apa yang mereka yakini, toh semuanya tergantung dari nawaitu-nya dan biarkan itu menjadi urusan ALLAH.

Sama. Saya malah pernah memaki anak-anak kampus yang menertawakan dan mengolok-olok muslimah bercadar. Kenapa rupanya? Itu pilihan hatinya. Biarkan saja. Setidaknya mereka masih mau menjaga tubuhnya untuk tidak menjadi seperti manekin yang dipajan di toko pakaian.

Tak masalah apakah pakai jeans atau celana gantung, pakai baju koko atau baju oblong. Sikap sendiri yang akan menentukan.

Baru-baru ini saya kritiki keras FPI pun bukan karena benci pada tampilan demikian, tapi pada SIKAP. Silakan baca dan liat komen-komen saya.

Ah, sudahlah. Bulan puasa, anggap saja ini tukar wacana. Tak pernah saya anggap anda musuh hingga harus meminta maaf. Malulah awak sama Ghazali dan Ibnu Rusyd yang bisa diskusi tanpa harus bersengketa abis-abisan. D

NB: Sebenarnya saya sudah menyatakan status hiatus dari dunia blog untuk sementara. Tapi, mumpung koneksi saya belum terputus untuk *mungkin* sampai lebaran nanti, saya berniat memperjelas hal ini. Agar lempang hati saya balik ke kampung halaman.

Terimakasih buat semua ;)

About Ferry ZK

Aku adalah gumpalan daging gempal yang membungkus tengkorak yang pada bagian luarnya diberi bentuk sehingga bisa digolongkan sebagai manusia.
This entry was posted in Insyaf Yuuu.... Bookmark the permalink.

19 Responses to Buruk keluar, buruk datang meski baik jadi angan…

  1. asukowe says:

    Seperti itulah sobat, menyampaikan dengan cara baik atau dengan cara brutal tergantung panafsiran masing-masing, intinya tetap cool. Jangan selalu men cap seseorang dengan apa-apa yang lahiriah dari seseorang tersebut. Belajar menjadi sosok yang batiniah mungkin lebih membuat hidup kita tenang dan damai. Seperti kata orang tua dulu… tentang durian yang halus mulus dalamnya, atau tentang kedondong yang parah dalamnya, atau tentang asukowe yang xxxxx atau tentang newradical yang xxxxx. Kita belajar dari Muslim yang lain, lainnya dan lainnya. Karena kita itu bergolong-golong dan pada akhir nanti cuma satu yang dijanjikan Allah paling benar….

  2. mbelgedez says:

    Yaa….
    Saya setuju sama boss Ferry. Gerombolan bernama Islam Liberal ini memang kurang ajar. Megatasnamakan kebebasan berpendapat dalam syiar Islam jelas ngawur sekali.

    Coba kita lihat, para pentolan Islam Liberal ini belajar Islam kok di Amerika, Australia. Mestinya ya ke negara konsentrasi Islam macem ke Mekkah, Mesir, Pakistan. Ibaratnya si Ulil ini belajar jadi tukang kayu tapi bergurunya ke pandai besi…

    Tapi itulah hasilnya, Islam Liberal adalah gerakan yang dibayari Amerika dengan misi untuk merusak tatanan Islam di negara miskin seperti di indonesia…

    Pernah denger nggak, saat berdirinya Islam Liberal tahun 2001 lalu, mereka mendapat gelontoran 7 milyard dari Amerika….

    Sedihnya lagi, adik-adik yang masih muda ikut-ikutan dengan gerakan sesat ini….

  3. Ferry ZK says:

    @ asukowe,

    begitulah maksute, meski ente bilang niat baeee tp dengan cara ente yang terjadi malah mbulet…

    @ Mbel,

    Klo si asu masuk mana Mbah Mbel ??? habis masih bingungin seh hi.. hi..

  4. alex says:

    Wah, dijadikan postingan😆

    Jadi begini: apapun yang terjadi, kita tetap basodara, bukan?😉
    Tetap bertauhid pada Tuhan yang sama, tetap yakin Muhammad itu the last messenger bahkan meski di luar sana ada ratusan orang semacam datuk ini atau datuk pencampur-baur Islam di India ini. Ndak… ndak akan ada pengaruh pada tauhid awak, entah pada tensi darah😆

    Permasalahan antara faksi radikal dan liberal dalam apa yang kita kenal “Ghazwatul Fikr” ini, disinilah aku pikir kita jadi penyeimbang. Memegang keduanya: Tauhid dan akal. Satu menjadi benteng, satu menjadi senjata. Syukur-syukur kalo “tangan cukup berotot” untuk mengubah😀

    Karena apa, Fer, maka kadang-kadang bahasaku mirip? Sederhana saja, aku pernah berada pada kedua posisi itu. Pernah menjadi “kanan” pernah menjadi “kiri”. Lalu tergelincir nyaris menjadi agnostik karena gencarnya ide-ide demikian mengalir dimana-mana.

    Di saat demikian, siapa yang menolong? Mereka-mereka yang sibuk berhujjah tentang dalil masing-masing kah? Bukan. Justru rekan-rekan yang bukan religius tulen, dalam artian ibadahnya biasa-biasa saja. Anak-anak dari kalangan “geek”-nya komputer. Boleh dilihat di sini ini. Lebih menusuk lagi, yang bikin kembali ke kehidupan normal itu siapa? Cuma seorang pengurus mushalla kampung di kota kecilku. Teungku Sago, orang tua yang udah 60 tahun dan ndak banyak bicara dalil ini itu. Yang ke mushalla itu cuma naik sepeda onta jaman dulu punya. Tetapi udah kenyang mengunyah asam-garam hidup, hingga ulama-ulama yang berijazah di MUI sini pun segan padanya. Muslim yang sederhana dan “sosialis”, kalo boleh aku sebut😉

    Nah, butuh waktu untuk kemudian “fight lagi” tapi dengan tauhid yang lebih teguh. Cuma, caraku yang mungkin – karena bawaan karakter – terlalu lugas dan blak-blakan. Sedikit banyak, aku bisa katakan aku pengagum berat Umar bin Khattab yang ndak pernah ragu bicara, bahkan untuk mempertanyakan wahyu pada Rasulullah sekalipun (tentang haramnya khmar yang sampai turun 3 x itu misalnya).

    Nah, di saat ini apa aku kritiki Quran? Tidak. Yang kita koreksi itu sesama kita sendiri; sikap. Agar tidak lalai dalam kepasrahan merengek perubahan pada takdir Illahi, atau digiring kesana-kemari macam domba untuk kepentingan politik yang bertopeng agama, atau pengkultusan individu yang keterlaluan. Pendek kata: kejumudan dan kefanatikan, tak peduli apakah ideologi sejenis islamlib atau malah penolakan total akal sebagai sarana fikir manusia untuk mencari kebenaran.

    Tapi, yaaa… kalo kata-kataku “kasar”, itulah kelemahannya. Maklum, darah rendah memang😦
    Benar memang, baiknya disampaikan dengan tutur yang baik. Cuma, aku ndak termasuk orang yang tahan untuk bicara keras. Bahkan terhadap ayah kandungku sendiri, akan kukritiki keras kalo misalnya *selaku bendahara mesjid di daerah* ada ketimpangan.

    Nah, untuk itu, bantulah. Bantu tulis atau bicara bahwa kedua hal itu sama merusaknya. Bantu lagi untuk sadarkan muslim lainnya, bahwa dakwah bukan hanya pada penampilan baju, bukan hanya i’tikaf di mesjid, bukan hanya ritual ala muktamar tahunan. Kita sering lupa dakwah sosial, dan cuma bisa kebakaran jenggot saat ada muslim-muslim yang tercerabut dari akarnya karena kefakiran hidup membuatnya kufur.

    Akhirul kata, berhubung besok, habis jum’at – Insya Allah – aku berangkat, maka: minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir-bathin.

    Kalo balik-balik ke padang, jangan lupa rendang dibingkiskan pula😛
    *muka gratisan*:mrgreen:

  5. dewo says:

    Hehehe…

    ( *** Ndak ikut-ikut. Cuma numpang ketawa saja *** )

  6. Ferry ZK says:

    @ Alex,

    Barangkali ada orang yang memulai dengan dakwah penampilan dulu, asal tidak mencari keuntungan dari penampilan tersebut baik materi maupun non materi gak pa pa tho ?…

  7. dwihandyn says:

    Kebetulan lewat….🙂

  8. secondprince says:

    walau saya nggak tahu permasalahannya
    saya setuju dengan Mas Ferry
    pemikiran Islib terlalu liberal dan kelewat batas
    tetapi tetap bagi saya setiap orang punya pilihan masing-masing
    termasuk memilih untuk mengkritik pemahaman orang lain
    tulisan bagus Mas
    wah bacaan Mas lumayan juga Ya, Karl Marx, Al Ghazali, Ibnu Rusyd, Ali Syariati dan Imam Ali ra
    eh Ghiffari siapa Mas baru denger saya?
    salam

  9. Ferry ZK says:

    @ Dwi,

    monggo.. monggo silahkan lewat…

    @ seconprince,

    Wah saya cuma copy paste, barangkali maksud tujuannya ke alex yaaaa….

  10. zal says:

    ::mungkin pemikirin-pemikiran orang mendiskripsikan dalam mejalani agama (dengan sungguh-sungguh) adalah sama, seperti datarnya air laut, namun gelombangnyalah yang membuatnya berbeda…
    namun apapun tiap kita ada fikiran, fikiran yang mengeraskan, bak batu koral, atau melunakkan bak tanah liat…

    judulnya bagus banget ferry…😆

  11. Ferry ZK says:

    @ zal,

    itulah zal kadang tanpa satirpun bisa salah persepsi, apalagi penuh dengan satire…

    “pemikirin-pemikiran orang mendiskripsikan dalam mejalani agama (dengan sungguh-sungguh) adalah sama, seperti datarnya air laut, namun gelombangnyalah yang membuatnya berbeda”

    wah kalau ini saya gak setuju deh zal, ALLAH dan tagut tentu beda sejelas beda siang dan malam he.. he..

  12. zal says:

    ::ya.. , Allah dan taagut jelas beda, namun yang menjalankan agama dengan sungguh-sungguh, akan menatap dengan selalu dalam ” inni wajjahtu wajhia lillazi fathorossamawati wal’ard”..kan…

  13. Ferry ZK says:

    @ zal,

    yup… selama disebut atas nama tauhid…

  14. yunan says:

    pemikiran yang menarik,walaupun saya tidak terlalu mempelajari islam dengan baik,,btw, yang saya tau islam itu ga ad liberal,moderat,radikal n dll..tapi yang saya tau islam itu rahmatan lil alamin,hehehe…maklum saya seorang ass advokat yang baru belajar islam karena dunia saya yang abu2 aplagi peradilan!!!!!

  15. Ferry ZK says:

    @ Yunan,

    begitulah bozzz, jika sesuatu yang ISLAMI dianggap ketinggalan zaman maka munculah istilah ISLAM liberal yang hendak merubah tata cara yang ISLAMI tapi gak mau dibilang bukan ISLAM.

    Advokasi bisa jadi ibadah yang besar juga lhooo walau realitanya sulit dan cenderung menjadi jalan lapang menuju dosa he.. he..

  16. yunan says:

    wah,,,jadi nambah nie ilmu saya…thx for comment!!!!

  17. yunan says:

    assam,akh….saya mau tanya tentang pendapat anda tentang khilafah ?apakah bisa terwujud dengan sistem hukum dan denokrasi eh sory maksudnya demokrasi yang ada di indonesia?????

  18. Ferry ZK says:

    @ Yunan,

    Khilafah kalau sifatnya regional atau apalagi lokal tentu jauh panggang dari api, secara tata negara biarlah Indonesia menjadi Indonesia tentu dengan pasang surut perkembangan demokrasinya, toh presiden kita secara langsung ataupun tidak langsung, diinginkan ataupun tidak diinginkan, ketika sudah menerima jabatan presiden otomatis jika ia seorang muslim tentu ia menjadi khalifah di Indonesia dan memiliki tanggung jawab sebagai khalifah disisi ALLAH, sementara untuk khilafah kita masih menunggu bersatunya ummat muslim, bagaimana mengharapkan datangnya ke-khilafah-an kalau masih saling bunuh sesama muslim hanya karena perbedaan syiah-sunni, bahkan sesama sunni saja saling bunuh hanya karena perbedaan organisasi seperti Hammas dengan PLO ?

  19. yunan says:

    wah…wah…saya suka pemikiran anda sangat luas, saya cukup puas dengan jawabannya,btw saya mo nanya pendapat anda tentang “film fitna” lagi2 islam dilecehkan, kemaren2 Muhammad dihina,sekarang alquran disuruh disobek oleh wilders politikus belanda yang seorang ateis itu….apa tanggapan akh ferry,dari dampak film tsb,dari reaksi umat islam d dunia terutama umat islam d bumi pertiwi yang mayoritas muslim???sebelumnya terimakasih semua jawaban yang anda berikan walaupun saya ga kenal anda sama sekali,tapi insyaallah silaturahim kita ga putus krn ikatan darah tapi karena akidah…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s