Keledai dan Tuhannya

Alkisah tersebutlah disuatu desa yang tenang, hiduplah seekor keledai betina dengan keseharianya yang bersahaja. Setiap pagi dipenghujung pekan ketika fajar menjelang, keledai tersebut digunakan tuannya untuk mengangkut keperluan niaga dari desa kepasar pusat kota, melewati telaga yang teduh dengan rimbunan pepohonan yang rindang dan wangi segar aroma rumput yang dibasahi embun.

Sore saat lembayung memerah, baru tuannya mengajak keledai tersebut pulang. Kembali melewati danau dengan permukaan air yang kemilau keemasan diterpa semburat lembayung senja dan kicau jangkrik pedesaan.
 

Meskipun selalu bisa menikmati perjalanan, keledai tersebut selalu menyesali nasibnya dan menghujat Tuhannya karena menciptakanya sebagai seekor keledai betina. “Kenapa Tuhan tidak menciptakan aku sebagai seekor kuda, yang cantik lagi bebas berkelana ?” umpatnya dalam hati. Hingga suatu malam dalam tidurnya, bermimpilah sang keledai ditemui seseorang yang penuh dengan kilauan cahaya. “Wahai engkau keledai, ketahuilah bahwa aku diutus Tuhan untuk menemuimu,  dan mengabulkan apa yang menjadi keresahan hatimu” ujar orang tersebut.

Pagi ketika sang keledai tersebut terjaga, didapatinya dirinya tertidur dipinggiran telaga yang biasa ia lewati dan bukan dikandang sang tuannya. “Apakah mimpiku barusan adalah kenyataan ?” pikirnya. Kemudian berjalanlah ia mendekati permukaan air seraya bercermin, alangkah senangnya sang keledai karena didapatinya dirinya telah berubah menjadi seekor kuda yang cantik lagi bertenaga. Setiap hari sang keledai yang kini seekor kuda berlarian dan bercermin dipinggiran telaga tersebut tanpa pernah memanjatkan syukur kepada Tuhannya, hingga beberapa bulan kemudian seorang pengelana menangkapnya dan membawanya ke suatu negri.

Di negeri baru tersebut si keledai-kuda diikat pada sebuah kereta dan dipaksa menariknya, membawa penumpang berupa barang dan juga manusia, pergi dari satu kota ke kota lain dengan cambuk yang selalu menghentak apabila ia berjalan lamban. Meskipun begitu tuan barunya tidak pernah alpa untuk memberinya makan dan minum, serta memandikannya setiap sore. Bertahun – tahun menjalaninya, bertahun – tahun pula si keledai yang menjadi kuda mengumpat Tuhannya, “Kenapa aku harus menjadi kuda yang menderita, Tuhan tidak adil, kenapa aku tidak diciptakan saja menjadi manusia yang cantik lagi merdeka dan dapat menguasai binatang seperti aku” keluhnya.

Hingga suatu malam bermimpilah sang keledai-kuda kembali ditemui seseorang yang penuh dengan kilauan cahaya, “Wahai engkau keledai, bersyukurlah karena sesungguhnya Tuhanmu maha pengasih lagi maha penyayang, dan akan dikabulkanNYA keinginanmu menjadi manusia, esok pagi setelah menjadi manusia pergilah kedalam hutan, disana engkau akan temui sebuah gubuk peninggalan petani tua, engkau akan temukan didalamnya sebuah kitab, bacalah dan patuhi segala isinya, itulah petunjuk yang lurus bagi ummat manusia.”

Singkat kata ketika pagi menjelang sikeledai-kuda terjaga dan didapatinya kembali berada di tepi telaga. Seraya berdegup – degup jantung si keledai-kuda, dihampirinya pinggiran telaga untuk bercermin. Alangkah gembiranya si keledai-kuda karena ia kini menjelma menjadi seorang gadis yang cantik jelita, ranum lagi berbentuk sempurna. Teringat akan pesan orang yang dipenuhi kilauan cahaya, berangkatlah ia kedalam hutan dan seperti perkataan orang dalam mimpinya tersebut, didapatinya sebuah kitab didalam gubuk tua.

Berjalanlah ia ke pusat kota, disepanjang jalan tak henti – hentinya orang memujinya, baik laki – laki maupun wanita, tua maupun muda, hingga akhirnya sang keledai-kuda-gadis cantik jelita itu bertemu dengan seorang saudagar muda yang tampan lagi kaya raya, yang kemudian meminangnya dan menjadi pasangan yang berbahagia. Akan tetapi tak sekalipun sang keledai-kuda-gadis cantik jelita itu membaca kitab yang ditemukanya, meskipun ia letakan di meja sebelah pembaringannya, tak pernah sekalipun ia buka serta membacanya.

Sang keledai-kuda-gadis cantik jelita lebih suka bersenda gurau dengan kalangan sesamanya, pergi pagi pulang petang tanpa memperdulikan suaminya yang lelah mencari nafkah penghidupanya. Setahun dua tahun sang saudagar masih bersabar karena cintanya, akan tetapi ketika bertahun – tahun sang keledai-kuda-istri yang cantik jelita tersebut tidak juga berubah, maka murkalah ia. “Wahai istriku, selama ini engkau tidak menghargaiku, engkau pergi sesukamu tanpa pernah meminta izin kepadaku” ujar sang saudagar, “Kenapakah aku harus meminta izinmu ? bukankah engkau juga pergi tanpa izin dariku ?” ujar sang keledai-kuda-istri cantik jelita, “Tetapi engkau adalah istriku, akulah pemimpin di rumah ini !” jawab sang saudagar, “Kenapa engkau yang harus jadi pemimpin ? apa bedanya kau dan aku ?” ujar sang istri tak mau kalah, “Tuhan telah menetapkanya seperti itu, bukankah engkau selama ini memiliki kitab yang sama denganku ? apakah engkau tidak pernah belajar darinya ?” ujar sang suami.

Sang keledai-kuda-istri cantik jelita kemudian membaca kitab yang selama ini dilupakanya, tetapi beberapa dari isi kitab tersebut tidak ia sukai. “Kenapa Tuhan menetapkan lelaki dilebihkan beberapa tingkat dari wanita? kenapa mereka boleh memiliki istri lebih dari satu sedang aku sebagai perempuan tidak ? kenapa apapun aku harus meminta izin kepada suamiku sementara suamiku tidak ? kenapa aku harus terkungkung dirumah, sementara suamiku bebas berkeliaran ? Apakah Tuhan itu laki – laki ? sungguh Tuhan itu tidak adil !” ucapnya penuh emosi.

Akhirnya sang keledai-kuda-gadis cantik jelita tertidur, membawa semua perasaan kecewa dan marah kepada Tuhannya. Dalam tidurnya ia kembali bermimpi bertemu dengan seseorang yang penuh cahaya, belum sempat orang itu bicara sang keledai-kuda-gadis cantik jelita mendahului datang dan menghardiknya, “Wahai utusan Tuhan, sampaikan kepada Tuhanmu aku tidak terima dijadikan wanita, Tuhanmu sungguh tidak adil, kenapa pria dilebihkan dari wanita ? mintakan kepada Tuhanmu agar laki – laki dan wanita disamakan, bukankah kami sama – sama manusia ?,” tanpa menjawab seseorang yang penuh cahaya tersebut raib, bersamaan dengan raibnya pula mimpi sang keledai-kuda-gadis cantik jelita.

Ketika sang keledai-kuda-gadis cantik jelita terbangun, didapatinya ia berada di tepi telaga dan bukan dalam rumah mewahnya, dan alangkah kagetnya sang keledai-kuda-gadis cantik jelita karena wujudnya telah berubah kembali menjadi keledai sementara disekelilingnya telah mengintai puluhan serigala yang lapar lagi menyeringai.

Daan Mogot, penghujung Juni 2007

About Ferry ZK

Aku adalah gumpalan daging gempal yang membungkus tengkorak yang pada bagian luarnya diberi bentuk sehingga bisa digolongkan sebagai manusia.
This entry was posted in Insyaf Yuuu.... Bookmark the permalink.

7 Responses to Keledai dan Tuhannya

  1. Gatot says:

    Hmmmm… persamaan gender, hak asasi perempuan, emansipasi wanita ?

  2. Persamaan gender keledai? Hihihi…

  3. wong solo says:

    Memang kadang wanita seperti keledai yang gak pernah bisa bersyukur he… he…

  4. he he he….keledai atau kedelai seharusnya sdar kalau jadi manusia itu berat…harus ngasih makan anak bini…coba jadi keledai…mau kawin sembarangan kek. mau kemana ja kek…bebas…..😀

  5. Ferry ZK says:

    hehehe bener juga, tp esensinya Tuhan menciptakan pria dan wanita itu memang berbeda, jd kenapa mesti ribut kesetaraan gender ? klo kesetaraan dalam peluang sih ok, coz skrg jd bias and ga jelas meaning dari kesetaraan gender. Masih untung diciptakan jadi wanita gimana klo diciptakan jadi keledai jangan – jangan sepanjang hidup menghujat Tuhan teruzzzz….

    Salam

  6. jacobs says:

    mensyukuri nikmat Tuhan lebih utama daripada kita hanya berusaha merubah sesuatu yang ada tanpa keikhlasan dari hati kita, Tuhan maha adil dan maha penyayang..bersyukurlah…hanya Tuhan yang tau yang terbaik buat kita😀

  7. Ferry ZK says:

    @ Jacobs,

    se-7 sekali bro en thank’s dah mampir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s