Pribadi Lintas Sekat

Sekat

Tak terlihat
Tapi begitu liat
Sengajakah dibuat ?
Keluar melewatinya
Bara api atau bara cinta
Pilihan siapa ?
(Prof.  dr. Yos E. Susanto M.A, M.P.H, Ph.D, Januari 2007)

Sekat dalam harfiah

Sekat adalah hal yang lumrah kita temui dalam kehidupan sehari – hari, ketika kita menginginkan pembatas antara satu sisi dengan sisi lainya, saat itulah kita merasa membutuhkan sekat. Sekat bisa berupa sebuah almari sebagai pembatas ruang keluarga dengan ruang tamu, atau lipatan pada lembar halaman sebuah buku, sebagai pembatas mana yang sudah dibaca mana yang belum. Bisa juga susunan gypsum setinggi dada pada ruang kantor – kantor yang sering kita lihat, sebagai pembatas meja kerja antara karyawan yang satu dengan karyawan lainya.
 

Sekat tentu berbeda dengan tembok pembatas, karena walaupun berfungsi hampir sama tetapi berbeda peruntukanya. Sekat bersifat semi permanen atau sementara, sedangkan tembok pembatas memang sudah diperuntukan sebagai pembatas selamanya. Sekat biasanya dibuat fleksibel (* bisa buka – tutup *) atau  memiliki celah/jendela, sementara tembok pembatas biasanya kokoh dan tertutup rapat. Contoh mudah adalah tembok rumah kita dan pagar halaman depan. Pagar bisa kita golongkan sebagai sekat, sementara tembok rumah sebagai pembatas permanen.Sekat dari sudut pandang manajemen

Sekat menurut Prof.  dr. Yos E. Susanto M.A, M.P.H, Ph.D dalam Pidato pengukuhan Beliau sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen STIE SUPRA yang berjudul “Memperkenalkan Jurus ‘MALS’ (Manajemen Lintas Sekat)” adalah suatu penghalang yang mempengaruhi proses pertukaran. Sekat dalam konteks ini digolongkan berdasarkan letak dan bentuknya. Berdasarkan letaknya sekat dapat dibedakan sebagai sekat pribadi, sekat organisasi dan sekat masyarakat. Sedang berdasarkan bentuknya sekat dapat dibedakan antara sekat fisik, dan sekat non fisik.

Contoh sekat pribadi yang berbentuk fisik menurut Beliau adalah keterbatasan fisik seseorang. Jika seseorang memiliki gangguan penglihatan atau gangguan pendengaran tentu sedikit banyak akan menghalangi proses komunikasi orang tersebut. Sementara sekat pribadi yang non fisik umumnya adalah sekat mental seperti prasangka, stereotip serta cara pandang atau paradigma.

 Sekat organisasi yang berbentuk fisik bisa berupa perbedaan lokasi, ruang terpisah atau pengaturan akses sistem informasi. Sementara yang non fisik antara lain sekat posisi struktur organisasi (bawahan – atasan), sekat fungsi jabatan (produksi, pemasaran, keuangan, dll.) atau sekat tipe pekerjaan (buruh, teknisi, administrasi, dll.)

Sekat masyarakat adalah sekat yang paling banyak dan tak terhitung jumlahnya. Sekat – sekat yang paling sering diteliti dan didiskusikan adalah sekat – sekat tentang sosial-ekonomi, sekat negara maju dengan negara berkembang, sekat budaya, sekat ras, sekat etnik, sekat peradaban, sekat gender, sekat agama, dll. Sekat – sekat yang ada di dalam masyarakat ini, bisa masuk dan membentuk sekat – sekat di organisasi yang pada akhirnya bisa menjadi pemicu sekat – sekat individu / pribadi.

Manajemen Hati membentuk pribadi lintas sekat

Sebagai bagian dalam suatu negara yang berpenduduk majemuk, sudah tentu kita akan jumpai banyaknya perbedaan yang pada akhirnya bisa membentuk sekat. Berkaca pada kehidupan berbangsa dan bernegara kita pada saat ini, tentu akan menghadirkan sedikit pertanyaan pada diri kita “Sudahkah kita menjadi pribadi lintas sekat ?”. Ketika kesamaan agama tidak bisa meredam perselisihan hanya karena perbedaan golongan, ketika kesamaan bendera dan lagu kebangsaan tidak dapat meredam perselisihan hanya karena perbedaan agama, ketika kesamaan ras tidak mampu meredam perselisihan hanya karena perbedaan bendera dan lagu kebangsaan, lantas bagaimana jika semuanya berbeda tanpa satupun kesamaan ?

Mungkin sudah saatnya kita mengajak hati kita untuk menjadi pribadi lintas sekat, membiasakan hati kita menghadapi perbedaan dan menjadikan perbedaan sebagai sarana menggapai tujuan. Membersihkan hati kita dari prasangka terhadap kemajemukan serta menuntun hati kita agar arif dalam memilah antara sekat dan dinding pembatas keimanan.

About Ferry ZK

Aku adalah gumpalan daging gempal yang membungkus tengkorak yang pada bagian luarnya diberi bentuk sehingga bisa digolongkan sebagai manusia.
This entry was posted in Sok Tau ahhhh.... Bookmark the permalink.

8 Responses to Pribadi Lintas Sekat

  1. Ferry says:

    Terima kasih dan hormat saya untuk Prof. dr. Yos E. Susanto, M.A., M.P.H., Ph.D. beliau adalah salah satu contoh pribadi lintas sekat yang pernah saya temui.

  2. helgeduelbek says:

    Jamakisasi/pluralisme terhadap kehidupan bermasyarakat yah. Sayangnya lebih banyak orang yang ngaku fanatik tapi buta tentang hal ini.

    Bukan Pak…, menjadi pribadi lintas sekat bukan berarti menjadi pribadi yang mendewakan pluralisme/jamakisasi, justru untuk mematahkan anggapan bahwa hanya paham pluralisme saja yang bisa menyandingkan perbedaan. Me-manage perbedaan dan memandang jernih terhadap sekat tanpa harus membutakan mata atau tanpa membodohi akal seakan-akan tidak ada sekat serta mengatur pintu sekat itulah tujuanya.

  3. Pipit says:

    Dr. Yos memang top! Sekat yang beliau punya benar-benar yang paling sempurna. Beliau bisa menjadi boss yang menghargai karyawannya tanpa membedakan agama, etnis, ras. Bisa low profile, bisa tegas, merengkuh semuanya, pintar, berwibawa, karismatik.

    Seandainya semua boss seperti beliau???

  4. Giana Sinukaban says:

    Sekat….?
    Tanpa kita sadari, sesungguhnya kita mempunyai sekat2 dalam kehidupan kita, entah sekat agama, sekat ras, atau sekat2 lainnya.
    Sekat bisa ada karena suatu kesengajaan atau sesuatu yang memang sudah membudaya. Dan sekat itulah yang menentukan apakah itu positif atau negatif.
    Yang paling penting bagaimana kita melihat sekat2 itu sebagai sesuatu yang indah, bukan sesuatu yang aneh dan kita menjauhinya.

  5. Luar biasa. Manajemen Lintas Sekat. Itu sangat diperlukan di tengah masyarakat yg majemuk ini. Sayangnya tidak banyak pemimpin yg dapat memahami & mempelajari Manajemen Lintas Sekat ini. Padahal penting banget.

    BTW, titip salam untuk Prof. dr. Yos E. Susanto M.A, M.P.H, Ph.D.
    Semoga Tuhan memberkati.

  6. Ferry says:

    @ Emanuel Setio Dewo

    he… he… Bro, topike kan Pribadi Lintas Sekat😀 omong – omong dah menuju ke pribadi lentas sekat kaya Beliau belum ?

  7. Ferry says:

    @ Giana

    Sekat dalam organisasi yang memang direncanakan tentu bersifat positif, seperti sekat informasi gaji, sekat dalam bentuk peraturan perusahaan, dll. Tapi biasanya sekat dalam masyarakat lebih besar sisi negatifnya dari sisi positifnya seperti sekat sosial

    @ Helgeduelbek

    Pluralisme kebablasan juga bahaya Pak, itulah selain memenej sekat pada hati kita, kita tetap memerlukan dinding pembatas dalam bentuk keimanan yang tidak bisa ditawar. (* gak maksud menggurui guru loh Pak he… he… *)

  8. Kang Kombor says:

    Secara jujur Kang Kombor akui sangat sulit untuk menjadi pribadi lintas sekat yang konsisten. Terkadang bisa tetapi pada saat tertentu sangat sulit. Saat tertentu itu biasanya datang dari sentimen agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s