Antara Keyakinan, Doktrinisasi dan Ego

Berapa umur anda sekarang ? 21 Tahun ? 28 Tahun ? atau sudah diatas 40 Tahun ? tentu sebagai warga negara Indonesia yang baik, anda mestinya juga adalah seorang pemeluk agama. Terlepas apakah anda pemeluk yang taat atau sekedar pemeluk agama dalam formulir isian ketika anda mengisi formulir formal yang biasanya ada kolom isian agama.
 


 Tetapi apa yang terjadi ketika kemudian ada orang yang mengatakan bahwa anda adalah orang yang tersesat ? Sebab menurut orang tersebut keyakinan merekalah yang benar sedang anda adalah domba – domba yang hilang ( atau orang “kafir” menurut golongan tertentu ) ? marah, kesal, benci atau malah mulai ragu terhadap apa yang anda percaya selama ini ?Disadari atau tidak kebanyakan dari kita adalah pemeluk “agama warisan”, warisan dari orang tua, keluarga atau sanak famili kerabat lain. Umumnya ketika masih balita kita mulai di doktrin kenalkan dengan sosok “Tuhan” yang tentunya versi orang tua kita. Bisa jadi sampai saat ini ketika kita mulai “dewasa” (paling tidak secara usia), untuk urusan agama mungkin kita tetap tidak bisa mandiri dan masih dibayangi dengan warisan keluarga. Coba hitung dengan usia anda saat ini dikurangi dengan awal anda dikenalkan dengan “Tuhan versi orang tua”, berapa tahun doktrinisasi yang telah anda terima secara terus menerus ?

Ketika “doktrinisasi” dari orang tua kemudian menjadi kebiasaan (bisa diawali menjelang tidur, ketika hendak makan atau dalam acara arisan keluarga), kemudian tumbuh menjadi “keyakinan” yang kita pegang (dan dengan gigih kita bantah bukan dari warisan) lalu digugat “kafir” atau “domba tersesat” oleh orang lain, tentu kita dengan marah lantang menyanggah dengan berbagai argumen, dalil, cukilan ayat dan lain – lain.

Tetapi apakah anda sadar bahwa bantahan anda berdasarkan “kebenaran” keyakinan ? atau “Ego” anda yang berbicara ?. Tentu sulit bagi anda (dan juga mungkin saya) menjawab secara jujur pertanyaan tersebut, sebab memang pada dasarnya sangat sulit memisahkan “Ego” dengan akal sehat. “Ego” (bisa jadi olahan antara kesombongan yang dibungkus dengan nalar dan emosi) jika dicampur dengan doktrinisasi tahunan bisa menjadi obat kuat “keyakinan”. Begitu kuatnya obat tersebut hingga kita akan rela mengorbankan segalanya untuk “keyakinan” kita.

Tetapi tentu seburuk – buruknya “Ego” dan “doktrinisasi” lebih buruk lagi jika kita tanpa keyakinan hanya disebabkan karena kita tidak dikenalkan dengan “Tuhan versi orang tua kita”, sebab hidup akan terasa hambar dan kosong tanpa arah dan tujuan.

Salam Damai.

About Ferry ZK

Aku adalah gumpalan daging gempal yang membungkus tengkorak yang pada bagian luarnya diberi bentuk sehingga bisa digolongkan sebagai manusia.
This entry was posted in Sok Tau ahhhh.... Bookmark the permalink.

22 Responses to Antara Keyakinan, Doktrinisasi dan Ego

  1. Oh… begitu ya? Masak sih? Lalu bgmn yg mencari sendiri keyakinannya? Atau jika ada yg karena campur tangan Tuhan secara langsung & mempengaruhi seseorang secara pribadi?

    (** Kabur **)

  2. zferry says:

    nahhh klo itu baru beda… tp kan yang bisa menilai itu campur tangan Tuhan secara langsung atawa tidak bukan kita, so dari mana kita tahuuuuu

    (* nunut kabur *)

  3. Sugiarto says:

    Mari kita bongkar habis-habisan keyakinan “agama warisan” kita! Kalau tidak ada kebenaran, tidak relefan dalam hidup kita lebih baik kita tinggalkan saja. Setuju??????????????

  4. fulan says:

    Memang sulit kalau bicara soal keyakinan.
    Perbedaan-perbedaan akan selalu ada. Kalau saya menanggapinya lebih cenderung jalan hikmah.

  5. pramur says:

    Numpang nimbrung nih Mas…
    Bukannya sok ustad nih Mas..
    Tapi setahu saya, kita beragama karena ada hidayah (bukan sinetron loo…)
    Yaitu , sesuatu yang diberika Tuhan sama kita sedemikian sehingga kita memiliki kemampuan untuk memahami

  6. Ferry says:

    @ Sugiarto

    Saya tentu sangat se-7 sekali, tetapi membongkar habis agama warisan untuk mencari kebenaran apa pembenaran mas ???

    @ fulan

    Iya Pak, semoga kita dapat hikmah dari ALLAH SWT.

    @ pramur

    kita pertama beragama karena adanya rizqi, rizqi dari orang tua yang beragama, hidayah datang kemudian ketika kita sadar bahwa yang kita pegang adalah kebenaran selain dari warisan (* hihihi sorii kalo sok tua nehhh *)

  7. Pipit says:

    Gak ada salahnya ikut agama warisan, karena toh ketika kecil kita memang harus diarahkan dan dibimbing. Nhaa, ketika dewasa ternyata agama warisan itu memang yang terbaik buat kita (tentunya setelah melalui pencarian panjaaang dan laaamaaa>, piye dong??

  8. dewo says:

    Warisan yg kuterima sangat luar biasa & tak ternilai. Tidak tergantikan dengan harta benda atau apa pun di dunia.

    (** Hihihi… sok filosofis. Kabur ah… **)

  9. Ferry says:

    hmmm ketika “ego” kembali berbicara

    (* magut – magut sembari mengelus – elus jenggot *)

  10. Pipit says:

    Emang punya jenggot?

  11. Jack says:

    Bener, seperti yang Anda katakan……………………..
    Itu juga pemikiran awal yang saya dapatkan sebelum saya sadar

    Coba Anda dikasih akal oleh TUHAN utntuk mengerti dan mengenal TUHAN dan mengetahui mana yang “salah” dan yang “bener”.
    Dengan segala kmampuan yang saya dapat dari TUHAN, akhirnya saya dapat mengeerti bahwa saya prcaya dengan doktrin dan ajaran yang saya yakini dan itu saya lakukan pengujian dan analisa.

    Memang menurut kebanyakan orang berpendapat itu karena doktrin dari keluarga tetapi itu juga tergantu pada diri kita.

    Keyakinan akan doktrin dan terutama terhadap suatu AGAMA haruslah diuji secara bener dan tepat, sebab AGAMA dan ajaran_NYA tidaklah bertentang dengan ketentuan hati dan hukum alam yang ada.

    Jack

  12. Pak Sanji says:

    Bener pak ferry. Jangan percaya ama keyakinan warisan dari ortu kita. Kita punya potensi, akal, pikiran, bisa ngebedain mana yang bener dan mana yang salah. Jadi kita bisa menggugat keyakinan yang diwariskan orang tua kita, seperti saya dulu.
    Nek paribasan ngetik komentar dipadhake karo ngomong mungkin, cangkemku wis kesel ngomong2 neng blog sebelah. Wonge keminter, sok tau, tapi ra iso mbuktike keyakinane dhewe, ning nganggep opo sing diyakini paling bener. Nek dijak diskusi ora nyambung, gawanane emosi. Tapi yo kuwi kabeh mau pancen kodrate menungso, ngeyel lan sok tau. Nek njenengan ngendika podo karo ego!
    Yen pengen ngerti bener orane agama, sopo kuwi gusti Allah, awak dhewe sesuk arep mlebu ngendi (surga/ neraka), tenan ora Yesus arep njamin mlebu sorga, jawabane mung 1, bar mati. Titenono!
    Iki mung sekedar unek2 lho pak ferry, bebas to mengutarakan pendapat? Sorry, pake basa jawa, tinggal di Jogja sih. Nulis2 meneh sing liyane. Maturnuwun…

  13. Ferry ZK says:

    lhaaa kuwi Pak, nek jenenge doktrinisasi plus ego tapi yo wis ben Pak, sing penting ikhtiar ngabarke ISLAM, diterima syukur ga diterima ya urusane de’e dewe. Jogja ne ndi Pak ?

    Maturnuwun sanget Pak.

  14. Pak Sanji says:

    Pancen leres ngendikane panjenengan. Kabeh kuwi warisan kawit cilik, awak dhewe ibarate koyo virus neng PC, polah sithik ‘njuk di babat nganggo antivirus. Nek pengen ngganti total operating sistem (agama), ya mung update utawa install ulang (cuci otak). Tapi yo yen ngono jenenge pemaksaan agama.
    Awak dhewe wis diparingi utek, pikiran, karo sing Kuasa kanggo mbedha’ake ngendi sing apik lan sing ala, tujuan awak dhewe Ikhtiar ngabarke Islam, lan ngendi sing bener lan sing salah, hasile yo diserahke wae karo gusti Allah. Wong wis diparingi utek, pikiran, lan budi pekerti, kan kanggo golek sing paling bener, lan mbedha’ake becik lan ala, nggih to pak? Rugi yen duwe kalewihan tinimbang ciptaane Gusti Allah liyane, neng ora diguna’ake, malah ngeyel sak karepe dhewe.
    Aku manggon neng daerah Kalasan, 3km wetan bandara Adi sutjipto.
    Nggih pun, mekaten kemawon, ngenjang saget disambung malih.
    Wassalam…

  15. Ferry ZK says:

    nggih Pak…

    Wassalam.

  16. FraterTelo says:

    lantas apakah kita harus merasa sebagai korban doktrin dan ego itu? kasihan sekali orang yang beragama hanya karena doktrin orang tua. awalnya memang ortulah yang mengenalkan yang baik salah satunya adalah agama tertentu yang dipilihkan olehnya untuk kita anut. waktu kecil tentu kita belum tahu tentang agama, dan ortulah yang mengenalkan. selanjutnya pasti kita sebagai manusia yang punya ego akan mencari sendiri mana yang benar. Nah…

  17. Ferry ZK says:

    @ Frater Telo,
    @ Frater Telo,

    benar sekali, tentu setelah berakal mestinya kita mencari sendiri yang benar, sayangnya apakah pencarian kita murni “mencari” atau hanya “mencari” pembenaran akan warisan orang tua ? sudahkan kita tengok kebenaran versi lainya ? ataukah kita cukup berpuas diri dengan pencarian pembenaran warisan orang tua ?

    Semoga kita bisa bijak menjawabnya.

    Salam Damai.

  18. FraterTelo says:

    mungkin ada benarnya kata pengajar saya dulu, kalau kita makin beriman maka kita akan makin membuka diri bahwa ada kebenaran di tempat (agama) lain. sebab sebagai manusia kita hanya percaya dan perkara menentukan benar tidaknya adalah Tuhan. sayang manusia kadang menjadi Tuhan sehingga dengan seenaknya menyalahkan disertai menyerang.

    aku sendiri masih mencari “kebenaran” itu dan ketika “kebenaran” itu adalah misteri maka disitulah letak keindahan pencarian itu.

    Salam

  19. Ferry ZK says:

    @ FraterTelo,

    Jika kita beriman tentu tidak ada alasan kita menyalahkan dan menyerang orang lain atas nama iman bukan ? tapi apakah sebenarnya iman itu ? apakah sekedar percaya taklik pada dogma yang terbenam di otak kita ? atau percaya bulat terhadap apa yang ingin kita percayai ?

    Kembali kepada pertanyaan apakah itu Tuhan baru kita bisa berkata bahwa ada manusia yang menjadi Tuhan…

    Manusia (seperti juga kita tentunya) memiliki kecenderungan membenarkan diri sendiri dan mencari pembenaran, sisi sebelah kanan tentu berbeda dengan sisi sebelah kiri tetapi ketika seekor semut melihat gunung, yang tampak tentu hanya satu sisi saja dan membutuhkan perjalan yang meletihkan jika ia ingin melihat sisi sebaliknya.

    Salam Damai.

  20. FraterTelo says:

    dalam iman terkandung rasa pasrah, sebab iman bisa membuat mereka yang memilikinya menjadi sangat kuat dan berani (bahkan beringas). namun bila tidak disadari iman juga membutakan. kepasrahan yang membutakan. saat itulah orang bisa melihat pasir di lautan, sementara balok kayu di depan matanya tak bisa dilihatnya. disinilah relevansi iman yang kritis.

  21. Ferry ZK says:

    @ FraterTelo,

    hmmm… dalam iman terkandung kebenaran, tanpa ada pertanyaan yang tak terjawab, tanpa ada pertanyaan yang gamang tanpa membutuhkan jawaban. Iman adalah lentera yang lembut lagi menyejukan, membawa kepasrahaan akan suratan tapi juga menghadirkan semangat akan perjuangan, iman adalah pilihan, yang telah dibimbing hati untuk menentukan, tanpa paksaan apalagi hanya karena keturunan.

    Iman adalah ketika hati anda berkata jujur bahwa tidak ada yang diragukan.

    Salam Damai.

  22. axiva says:

    jadi kesimpulannya apa…? eling aja….??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s