Feeds:
Posts
Comments

Besok puasa nehhh…

Setulus apapun niatnya,

Sebaik apapun penyampaianya,

Jika yang muncul adalah murka,

Dan ada hati yang terluka,

Mohon ma’af yaaaaa,

Besok mo puasa…

rafting-d1.jpg

“Bentar lagi puasa koq malah family gathering ???…” itulah komentar awal waktu pertamakali ibunya anak – anak kasih tahu tentang acara tahunan kantornya, gimana gak kaget, lha wong pasar semakin rame sama penjual kembang koq malah mau fam-gath, bukan apa – apa menjelang puasa gini yang rame acaranya khan numpuk sembako sama latihan men-jama’ makan siang hi… hi…, apa ada seh yang malah planing-in rekreasi ?…

Tapi dari pada dibilang gak toleran ya sudah manut saja, apalagi di iming – imingi serunya rafting ala arus liar plus keindahan cottage tradisional, jadilah kita putuskan berangkat. Saat hari “H” nya meski molor satu jam lebih dari rencana awal keberangkatan (* dan bokin gw yang bikin molor alias telat sendirian hi… hi… *)  jadilah kami berangkat dengan penuh ceria… 1 jam perjalan pertama, sedikit ceria banyak ngedumel coz macet… 2 jam berikutnya, lelah, ngantuk plus BT jam – jam berikutnya… baru setelah 5 jam lebih perjalanan plus 1 jam diantaranya dengan kondisi jalan penuh tikungan curam yang meliuk – liuk mendebarkan sampailah kami ditempat tujuan.

Sereman mana raftingnya sama diangkut truknya…

Setelah 80 km…

perjalananhari.jpg

Senja mulai temaram, ketika penat belum lagi bersimpuh kulihat lampu jalan mulai bersuluh, indah disini… kataku kemarin, juga kemarin yang lalu dan kemarin – kemarin yang lain, indah disini kataku… berselubung debu bermandikan peluh, sementara senja kian menjauh…

Tak perlu urat bersilat pada lidah, indahku bertahtakan penat menghela kuda besiku yang setia, indah disini kataku kemarin dan hari ini, sungguh… ALLAH maha pencipta, diantara mega yang kian menguning bersemayam pada awan, kutemukan indahku, sepi disini kataku dalam hati…

Sepi disini… bukan kesepian hampa tak bertepi, sepi disini… sebab aku berkenang dengan indahku seorang diri, luna yang masih malu – malu beriring denganku, merona merah mega juga setia menguntitku, sepi disini kataku dalam keindahan, akankah ALLAH selalu memperkaya hatiku ?…

Penghujung Agustus, 2007

JORR 2

Berakhir sudah kisah bikers jalan tol, 28 Agustus kemarin resmi sudah penggunaan jalan tol JORR yang menghubungkan tol cikampek dengan tol jagorawi, yang artinya gak bakalan boleh lagi para bikers melewatinya hi… hi…, padahal selama ini tol tersebut jadi alternatif para “rompag robek” pelintas kali malang yang paling digemari, coz selain lebih mulus jalannya, juga bisa bejek gas sesukanya he… he…

Akhir tol raiders…

Belum hilang sisa – sisa kemeriahan memperingati hari kemerdekaan, bendera masih terpasang pada tiangnya, umbul – umbul masih berkibar dengan meriah, beberapa bingkisan hadiah belum lagi sempat dibuka. Sepertinya ritual setahun sekali tersebut tetap memiliki daya pikat yang menggoda meski tak terasa sudah 62 tahun terlewati dari saat pertamakali dikumandangkan.

Kemerdekaan, penggalan kata yang tetap indah meski berulangkali didengar, tetap membuat dada berkembang meski tengah meratap, tetap membuat tegar meski ditengah lapar, tetap memiliki nuansa kebangsaan meski kian kehilangan makna dalam hidup keseharian. Kemerdekaan mengalir dari gedung – gedung pemerintah yang megah, rumah – rumah elit yang mewah hingga kumpulan bilik sempit dilorong – lorong pinggiran kali yang juga dianggap rumah. Kemerdekaan barangkali baru berupa keindahan perasaan kebanggan akan romantisme perjuangan.

Merdeka… Merdeka…

Aku ini Tuhan…

Aku ini Tuhan
sebab mati hidupmu aku yang tentukan
ingat, belati di dadamu telah hampir kuhujamkan
masihkah mencari yang tak terbayangkan

Aku ini Tuhan
sebab Aku lembut lagi penuh kasih memabukan
darah dan dagingku adalah roti dan anggur kenikmatan
telah kuselamatkan engkau dari dosa dan penderitaan

Aku ini Tuhan
sebab aku adalah yang engkau inginkan
bengis atau lemah lembut engkau yang tentukan
halal dan haram sesukamu engkau jabarkan

Aku ini Tuhan
sebab ALLAH telah terlupakan
terselip jauh di lubuk hati bagian dalam
terhimpit lemak kukufuran bergelimang darah penyesatan

Aku ini engkau Tuhan-kan
sebab iblis duduk nyaman bersebelahan
dalam benak nafsu dan selera penafsiran
tunggulah hari pembalasan.

Pertengahan Juli 2007.

Ada yang mengharubiru sabtu malam kemarin, meski lautan merah penuh sesak meluap baik di dalam maupun di luar gelora Bung Karno, tetapi tidak bisa dipungkiri haru biru lah yang ada didalam dada merah setiap pengguna kostum kesebelasan kebanggaan. Saya sendiri secara pribadi sudah lama melupakan tim nasional, tepatnya setelah (* bahkan *) di event se-asia tenggara saja tidak bisa menggapai hasil maksimal. Meski sepakbola adalah olah raga favorit saya, sudah tidak pernah lagi saya mengikuti kiprah tim nasional. Saya lebih suka tenggelam bersama liga Inggris dengan Chelsea-nya dan liga Spanyol dengan Barcelona-nya, itulah mengapa berita kemenangan timnas atas Bahrain cukup mengejutkan saya (* soalnya ga liat langsung sehhh *).

Menyejukannya suporter timnas…

Ihik’s…. jadi iri nehhh klo baca postingan Dewo “Kembali ke… Linux“, dengan mudahnya doi gonta – ganti laptop, sementara laptopku yang pertama, sampai sekarang belum ada yang keduanya ihikk’s…. ihikkks.

Awal 2006 kubarter sebuah laptop dengan dolar (* hu..hu… mahalll booooo *), pada saat itu memang bukan teknologi terdepan tp lumayanlah buat setarafku (* itu juga pake uang pesangon pffffhh *) Toshiba M45-S331 Centrino Sonoma 1,6 Ghz. Dengan widescreen dan clearsuperview nya plus harman kardon speaker kayanya sehhh dah cukup memuaskan, tp itu dolo, sekarang dah lewat 2 generasi centrino bahkan mau dilewatin jadi tiga dan empat (* huaaaaa… *)

Centrino ohhhh Centrino...

Katanya seh,  pada dasarnya platform Centrino merupakan 3 komponen utama dalam laptop/notebook yaitu prosesor, chipset & kartu jaringan nirkabel. Generasi pertamanya (Tahun 2002 ) Pentium M, Intel Mobile 885 & Wi-Fi Intel Pro/Wireless 2100 dimana pada awalnya prosesor Pentium M nya berkode Banias,  yang merupakan pengembangan dari arsitektur Pentium III.

Centrino dari masa ke masa…

Pagi ini…

Pagi ini,
Hitam pekat kulangkahkan kaki
Pada luka keangkuhan diri
Pada duka penyesalan hati
Pada dosa yang telah terpatri

Pagi ini,
Dalam kelam kubenamkan diri
Pada asa yang hampir mati
Pada rasa yang telah basi
Pada kuasa yang kuhianati

Pagi ini,
Masih kulihat dua pasang mata setia menanti
Pada keluguan yang biasa kunikmati
Pada kelucuan penghibur hari
Pada kebisingan penghantar mimpi

Pagi ini,
Semoga Tuhan masih memberkati…

Daan Mogot, penghujung Juni 2007

Keledai dan Tuhannya

Alkisah tersebutlah disuatu desa yang tenang, hiduplah seekor keledai betina dengan keseharianya yang bersahaja. Setiap pagi dipenghujung pekan ketika fajar menjelang, keledai tersebut digunakan tuannya untuk mengangkut keperluan niaga dari desa kepasar pusat kota, melewati telaga yang teduh dengan rimbunan pepohonan yang rindang dan wangi segar aroma rumput yang dibasahi embun.

Sore saat lembayung memerah, baru tuannya mengajak keledai tersebut pulang. Kembali melewati danau dengan permukaan air yang kemilau keemasan diterpa semburat lembayung senja dan kicau jangkrik pedesaan.
 

Lanjutan Keledai dan Tuhannya …

Langkah Pertama

Melangkahlah dengan mengingat Tuhan
Sebab hari akan terasa ringan
Menjauh pula aral dan rintangan
Alam pun kian terasa sebagai sabda akan kekuasaan Tuhan

Melangkahlah bersama Tuhan
Sebab iman akan terasa bukan beban
Menjauh akal dari syahwat keseharian
Hari pun terasa sebagai senandung puji – pujian…
ALLAH Tuhan semesta alam

Pancaroba

Dewi Padi,
Enggankah engkau menjajahku lagi
Benih yang mengering telah lama mati suri
Sejak terakhir kita bersama menelusuri pinggir kali

Dewi Padi,
Aku memang telah berbuah dan bersemi
Seperti juga engkau menjadi penyubur di seberang negri
Adakah engkau teringat lagi

Dewi Padi,
Kini tanahku mengering kembali
Mungkin karna uzur atau kurang disirami
Sementara semangat telah terbang meninggi
. . .
Aku bukan menanti
Hanya hampa mengiris sepi

(* Tanggerang musim hujan penghujung Januari… *)

Pribadi Lintas Sekat

Sekat

Tak terlihat
Tapi begitu liat
Sengajakah dibuat ?
Keluar melewatinya
Bara api atau bara cinta
Pilihan siapa ?
(Prof.  dr. Yos E. Susanto M.A, M.P.H, Ph.D, Januari 2007)

Sekat dalam harfiah

Sekat adalah hal yang lumrah kita temui dalam kehidupan sehari – hari, ketika kita menginginkan pembatas antara satu sisi dengan sisi lainya, saat itulah kita merasa membutuhkan sekat. Sekat bisa berupa sebuah almari sebagai pembatas ruang keluarga dengan ruang tamu, atau lipatan pada lembar halaman sebuah buku, sebagai pembatas mana yang sudah dibaca mana yang belum. Bisa juga susunan gypsum setinggi dada pada ruang kantor – kantor yang sering kita lihat, sebagai pembatas meja kerja antara karyawan yang satu dengan karyawan lainya.
 
Lanjut Lebih banyak sekat…

Hihihi kalau bicara “ukuran” orang indonesia, pasti yang terfikir adalah “ukuran” benda pusaka yang dimiliki kaum pria. Padahal kan ga juga ya, kan bisa aja berarti “ukuran” bukit beban yang dibawa kaum hawa (* walah saru juga *).  Tapi apa hubunganya sama pembuat karoseri Bus ???

Lebih Banyak Ukuran orang Indonesia…

« Newer Posts - Older Posts »