Kawan, lihatkah kau luna malam ini ?
ia tengah bersedih
mata bundar pipihnya memutih
kadang nyalang, seringkali terkatup rapih
dan air matannya yang jatuh pada atapku yang bergincu putih
adalah hujan rinai yang tak jua kunjung letih
sementara malamku sebentar lagi disapih
Kawan, hiburlah kembali lunaku yang bersedih
tanpanya hitam legam malamku jauh dari syahdu
padahal hanya itu milikku satu
diantara ribuan penat onak duri setelah pagi berlalu
serta keluh kesah resah batang – batang padi kepada benalu
dan para kerbau kepada bajaknya sendiri yang berpura lugu
Kawan, kemanakah perginya luna pengantinku ?
malam ini baru pukul tiga selepas satu
apakah ia dibawa pergi hujan yang telah menderu ?
ataukah engkau yang melarikannya dariku ?
Biarlah kutunggu kembali lunaku semusim kapal saudagar berlalu…
Puisi ini diikutsertakan pada Kuis “Poetry Hujan” yang diselenggarakan oleh Bang Aswi dan Puteri Amirillis






lirih. dan sangat bertalu. ada bagian rupa pantun. ah, kau ini begitu piawai…
@ Usup,
wah jadi ge-er niy dipuji pakarnya puisi qiqiqi…
terimakasih atas partisipasi sahabat dalam kuis poetry hujan..^^
*kemanakah luna pergi..??
@ Putriamirilis,
sang luna pergi ditelan kabut duka…
wah bagus banget ne puisinya..
puitis sekali bagus banget puisinya