Kata orang seringkali sejarah berulang mungkin ada benarnya, coba tengok hubungan indonesia – malaysia, pasang surut hubungan negara serumpun ini bahkan juga pernah di bumbui dengan aksi pertikaian senjata. Nun dahulu kala ketika presiden pertama kita berkuasa, dengungan “Ganyang Malaysia” seakan menjadi mantra penyemangat muda – mudi kita untuk berangkat dan menyusup ke dalam batas negara malaysia dengan heroik dan patriotik.
Adalah pertikaian para koboy dengan seterunya beruang merah beserta bambu kuning yang dulu menjadi asal muasal gerakan “Ganyang Malaysia” membahana, bahkan kelahiran negara Singapura pun salah satunya tidak lepas dari campur tangan pemerintah kita kala itu yang mensupport berdirinya negara baru singapura ditanah Melayu, meski barangkali keterlibatan tersebut tidak diakui secara resmi.
Jika sekarang dengungan “Ganyang Malaysia” kembali membahana apakah karena urusan “sepele” komunis dan kapitalis saja ? rasanya kita sebagai anak bangsa harus mengakui bahwa kali ini saudara serumpun kita itu yang keliru. Setelah mengakuisisi Sipadan dan Ligitan (* meski harus diakui juga karena keteledoran pemerintah kita yang kurang peduli *), kemudian dengan arogan mempatenkan batik, koq sekarang bisa – bisanya membuat iklan kunjungan wisata ke Malaysia dengan menampilkan budaya milik indonesia.
Belum lagi istilah “Indon” yang sangat melecehkan serta kasus – kasus penyiksaan TKW oleh warga Malaysia (* yang entah kebetulan atau tidak dilakukan oleh etnis tertentu non melayu *). Bahkan yang paling potensial kembali menjadi konflik bersenjata adalah kasus Ambalat yang sudah melibatkan tentara kedua negara.
Lalu apakah kita begitu saja mengamini semboyan “Ganyang Malaysia” ?, tunggu dulu, barangkali kita perlu menelaah bahwa selain banyaknya konflik yang telah terjadi, yang membedakan kita dengan warga malaysia pada umumnya hanyalah “sekat negara“. Sebagai bangsa kita adalah serumpun meski berbeda negara, sebagai ummat muslim apalagi, kita jelas – jelas bersaudara.
Meski bukan berarti kita menerima begitu saja pelecehan yang mereka lakukan, tetapi bukan berarti perselisihan yang terjadi dengan mudah menjadikan mereka “musuh” kita yang perlu dicaci maki atau bahkan diperangi dengan senjata. Apalagi jika di telaah lebih mendalam ternyata selain bangsa serumpun bahkan bagi “urang minang” (* dan juga Bugis, melayu Riau, dll. *) malaysia khususnya Negeri Sembilan memiliki nilai emosianal tersendiri.





Gimana lagi, wong mereka tetap malingsia? Kenapa kita selalu jadi bahan hinaan mereka mulu? Wong mereka juga belajarnya dari kita kok?
mossad game based in singapore. enough to destroy two muslim countries, self destruct mode. indonesia will never be able to invade malaysia. both countries cannot win over the other. however, the war between the two will be enough to break both down to its knees, and to start from scratch again
Dengan jatuhnya Indonesia-malaysia, ASEAN as a group will also lose its strengths, and “muslim” leadership of the region diminished. It will be either singapore or thailand will lead ASEAN, and shape it to the world powers’ flavours. Indonesia-Malaysia have major impact on OIC, OIL rich muslim countries, and the obstacles to Israel-Jewish total expansion in Palestine. Many rogue parties and rogue super powers, got so much to win, with the fall of Malaysia-Indonesia. Malaysia and Indonesia are potent power to be reckoned with, if they are allowed to prosper, and live in harmony. Combined, they are like weapon to be dealth with. One, is smallish, innovative, flexible, experimental, swim and flips with the western-eastern super power countries, learning like a sponge, what it can from them. One is big, resourceful, huge population, plain brute and force. If combined, its like putting a spear head to a strong spear body, or, attaching a war head, to a nuclear bomb. Some parties wants to make sure, it never happens. the cheapest way, is to make them destroy each other, like Iran-Iraq, Iraq-Kuwait, Afghanistan-Pakistan. This is not a new methodology. Jatuhnya Kerajaan Othmaniah di Turki, the last Global Muslim Super Power, tidak akan berjaya, TANPA tenaga upaya dan kebencian Muslim Arabs terhadap turki. All the kufar has to do, is just to whisper doubts and fan the hatreds….