Belum hilang sisa – sisa kemeriahan memperingati hari kemerdekaan, bendera masih terpasang pada tiangnya, umbul – umbul masih berkibar dengan meriah, beberapa bingkisan hadiah belum lagi sempat dibuka. Sepertinya ritual setahun sekali tersebut tetap memiliki daya pikat yang menggoda meski tak terasa sudah 62 tahun terlewati dari saat pertamakali dikumandangkan.
Kemerdekaan, penggalan kata yang tetap indah meski berulangkali didengar, tetap membuat dada berkembang meski tengah meratap, tetap membuat tegar meski ditengah lapar, tetap memiliki nuansa kebangsaan meski kian kehilangan makna dalam hidup keseharian. Kemerdekaan mengalir dari gedung – gedung pemerintah yang megah, rumah – rumah elit yang mewah hingga kumpulan bilik sempit dilorong – lorong pinggiran kali yang juga dianggap rumah. Kemerdekaan barangkali baru berupa keindahan perasaan kebanggan akan romantisme perjuangan.
Kemerdekaan yang tampak hari ini adalah antrian panjang warga kelas menengah bawah hanya untuk beberapa liter minyak tanah, kemerdekaan hari ini adalah makin tidak merdekanya mereka dalam mencukupi kebutuhan harian serta makin sulitnya mencari pekerjaan. Yang menonjol dari kemerdekaan hari ini adalah merdekanya harga – harga dari jangkauan daya beli kelas menengah bawah, minyak goreng yang merdeka membumbung tinggi padahal disatu sisi negara ini memiliki hamparan kebun kelapa sawit yang luas, sementara harga bahan pokok lainyapun tak mau ketinggalan nuansa kemerdekaan untuk ikut membubung tinggi, apalagi ketika ramadhan menjelang.
Kemerdekaan juga hadir dalam pilihan kebijakan pemerintah, pemerintah merdeka memilih untuk mengkonversi minyak tanah dengan gas, dengan kemerdekaan teori akan pengurangan subsidi dan kemerdekaan khayalan lebih murah menggunakan gas dibanding minyak tanah. Sayangnya kemerdekaan ini tidak dirasakan oleh justru mayoritas pengguna minyak tanah itu sendiri yang tentunya adalah kalangan menengah bawah. Kemerdekaan kelas bawah telah dirampas dengan menghilangnya minyak tanah, alih – alih menggunakan gas yang terjadi adalah antrian tak kenal lelah masyarakat kelas bawah, baik ibu – ibu maupun para suami, juga nenek – nenek maupun anak – anak, dan dengan mudahnya penguasa merdeka berkata mereka membandel padahal sudah diberi tabung & kompor gas gratis… sungguh ironis.
Merdekakah penguasa kita untuk berfikir bahwa mereka bukan pegawai yang mendapat gaji bulanan ? merdekakah penguasa kita untuk mengetahui bahwa uang yang mereka dapat sore ini untuk belanja esok hari ? gas yang mereka harus beli bisa jadi harganya hampir 2/3 pendapatan sore ini, lalu bagaimana dengan nasi ? sementara minyak tanah dulu bisa mereka beli sesuai kebutuhan mereka 1 atau 2 liter, sementara untuk gas, terkecil minimal 3 kg seharga 12.750,- padahal dalam sehari mereka bisa jadi hanya memperoleh 20.000,- atau bahkan ada yang dibawah 15.000,-
Ahh, biarlah kemerdekaan ini indah untuk dikenang meski getir dijalani.
Penghujung Agustus 2007.




Yup, kita harus doain para penjajah2 yg notabene orang kita sendiri itu.
Supaya hati nuraninya terbuka,
ngerasain gimana susahnya mereka yang tertindas
dan terbeban menolong , bukan malah tambah nindes
Mungkin mata mereka sekarang sedang tertutup kabut tebal,
kabut yang menggoda dan memabukkan,
namun sebenarnya itu semua hanya sesaat dan sia2 ….
Buat yang tertindas ( mungkin termasuk kita yah. heheheh, huhuhhu )
Emang di dunia ini ga ada keadilan yg seutuhnya
tapi bukan berarti kita putus asa.
justru dalam kesesakan,
dalam kekurangan,
dalam penderitaan,
dalam ketidak adilan,
kuasaNya semakin nyata.
dan selalu ada hari esok yang cerah
makanya….
berjuanggg ^ ________^
dan percaya kalo Dia yang akan mencukupkan semuanya
Amiiinnnn…
Btw Pak, kayaknya jawaban saya ga nyambung sama soal ulangannya deh hehehehhe
kidding ^0^
Ironisnya Gas sendiri tidak ada jaminan gak naik, dulu kalo minyak tanah naik pasti heboh coz menyangkut kelas bawah, skrg kapan saja penguasa bisa naikin gas dan dengan entengnya bilang gas bukan bagian dari masalah kelas bawah coz gas digunakan kalangan menengah keatas huaaaa…
Huuh….tukang bubur, tukang ayam bakar, tukang gorengan, tukan gado-gado langgananku…. juga mengeluh gara-gara harga minyak tanah naik. Udah naik susah dapetnya lagi….. Trus mau naikkan harga dagangan salah pasalnya yang beli juga ekonomi pas-pasan, ngga naikkan dia yang rugi. …. pusssiiiingg katanya…
Duh!!!! kabuuurr ah….habis pusing juga seh
iyaaa Bune, tega sekali yaa yang buat kebijakan, coba yang buat kebijakan gajinya sama seperti tukang bubur, tukang ayam bakar or tukang gorengan pasti lebih wise deh bikin kebijakan… he… he…
Serba salah memang bung…..
Saya cuma bisa komen, ini memang dosa warisan leluhur rezim Soeharto. Terlalu lama dia memanjakan rakyatnya dengan subsidi.
( Kasian rezim yang sekarang berkuasa…. )
Apa iya ya bozzz ??? bukanya kekaya’an alam negri ini memang untuk rakyatnya ??? kalau daya beli sudah membaik mungkin ga masalah dikurangi subsidi or tanpa subsidi, padahal subsidi sendiri juga bias, capa yang jamin subsidi yang dianggarkan tiap tahunya memang dinikmati masyarakat kelas bawah ?
Subsidi or bukan kewajiban pemerintah adalah mensejahterakan rakyatnya itu juga menurut saya bozzz he… he… Btw saya tetep mendukung SBY sama seperti masa kampanye mungkin pembisiknya aja yang diganti hi… hi…
Coba kalo minyak tanah di gratis-in, pasti di timbun terus dijual ke luar…hehehe
wah bener juga tuhhh bro rizkov… hi… hi…
Jangan putus asa, gak semua naik kok….! COba lihat yang gak naik-naik dari dulu: kualitas pendidikan, kesejahteraan, kesehatan masyarakat, tingkat keamanan, kecerdasan penguasa, dll.
Jadi jangan sedih, gak semua naik kok….